Sutan Irawansyah, S.Ag
Jewish golden age in spain adalah kalimat pengakuan dari sekolompok penulis Yahudi yang menggambarkan situasi mereka saat dibawah payung kekuasaan Islam. Bahkan jauh sebelum itu Karen Amstrong dalam bukunya A History of Jerusalem: Obe City, Three Faith yang mencatat kisah indah tentang penaklukan Jerusalem oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Umar bin Khattab, menurutnya;
Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya, dengan kemungkinan perkecualian pada Raja Daud. Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang kota itu belum pernak menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Ketika kaum Kristem menyerah, tidak ada pembunuhan disana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain
Max L. Margolis dan Alexander Marx menulis dalam A History of the Jewish People menyebutkan bahwa selama ribuan tahun kota Jerusalem itu menjadi rebutan dan tempat pertumpahan darah. Buktinya pernah ditaklukan oleh Babylonia selama dua kali, pertama pada tahun 597 SM dibawah pimpinan raja Jehoiachin dan yang kedua pada 586 SM, pasukan Nebuchadnezzar, kaisar Babylonia ketika itu kembali menaklukan Judah. Bahkan rajanya yaitu Zedekiah dibuat buta dan diseret dengan dirantai ke Babylonia. Akibatnya kota Jerusalem runtuh dan Solomon Temple hancur.
Pengalaman pengusiran dan penindasan yang dialami kelompok Yahudi tidak terhenti. Di Eropa mereka mengalami marjinalisasi yang hebat, dimana sejumlah Paus di Vatikan yang dikenal sangat anti Yahudi, seperti Paus Paulus IV yang diangkat pada tanggal 17 Juli 1555 sehari setelah pelantikannya mengeluarkan dokumen "Cum nimis absurdum". Paus menekankan bahwa para pembunuh Kristus itu adalah Yahudi, pada hakekatnya mereka adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai budak. lalu mereka dipaksa tinggal dalam ghetto yang memiliki satu pintu masuk.
Tidak cukup sampai sana. Yahudi dipaksa menjual semua miliknya, seperti harta benda mereka kepada Kristen dengan harga yang sangat amat murah; maksimal 20% dari harga yang seharusnya. Selebihnya disetiap kota hanya boleh ada satu sinagog, bahkan di Roma ada tujuh dari delapan sinagog dihancurkan. Kemudian di Campagna, 17 dari 18 sinagog dihancurkan. Selanjutnya Yahudi juga tidak boleh memiliki ktiab suci. Saat menjadi kardinal, Paus Paulus IV membakar semua Kitab Yahudi.
Peristiwa pembakaran Talmud ini terjadi pada tanggal 9 September 1553 di alun-alun Campo de' Fiori, Roma. Saat itu komite kardinal dan kepala inkuisisi Romawi dipimpin oleh Gia Pietro Carafa, dia memerintahkan agar meniyta dan membakar seluruh salinan Talmud karena teks tersebut diklaim memuat ajaran sesat dan menghina kekristenan.
Selain di Roma, Yahudi juga mengalami penindasan di Spanyol dengan membatasi secara ketat terhadap Yahudi yang diilhami oleh Code of Theodosius. Akibatnya mereka semakin terjepit, belum lagi menyusul konversi Raja Recarred I pada The Third Council of Toledo dan sang raja memutuskan katolik sebagai agama negara. Salah satu isinya adalah larangan perkawinan antara kristen dan Yahudi, kalau ada keturunan dari situ, maka harus dipaksa dibaptis, dll.
Dan masih banyak lagi penindasan atas nasib eksistensi Yahudi diberbagai belahan negara di Eropa. Namun, yang lebih menarik adalah saat kelompok Yahudi migrasi ke Turki Ustmani. Apa yang terjadi disana adalah kisah yang tidak boleh dilupakan.
Wallahu 'alam bi shawwab
Bersambung..
.jpg)
Komentar
Posting Komentar