Sutan Irawansyah, S.Ag
Apalagi bagi yang menganggap bahwa mukjizat bukan peristiwa yang ajaib, tapi yang ajaib adalah bagi orang yang mempercayai omong kosong ini! Narasi terakhir ini ditulis oleh Dr. Ryu Hasan dalam satu postingannya, kata dia;
Kita akan di cap omong kosong jika meyakini Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw, saudara kita yang beragama Kristen pun di cap sama hanya karena membenarkan kenaikan Yesus. Narasi Dr. Ryu ini memancing pertanyaan di kepala kita "Benarkah sesuatu yang dianggap mukjizat itu mustahil dan omong kosong belaka?"
Bagaimana mungkin Nabi Ibrahim bisa bertahan dari kobaran api yang menjalar kesetiap tubuhnya? Di zaman yang serba terbatas dan tidak ada kecanggihan apapun mungkinkah Nabi Muhammad saw bisa membelah bulan? Apalagi dengan Nabi Musa yang mampu membelah lautan?
Tapi mengapa, saat Thomas Alfa Edison menemukan lampu fajar disebut inovasi, lalu Alexander Graham Bell yang menemukan ponsel pertama disebut teknologi? Maksudnya, kita selalu mengukur segala sesuatu menurut keterbatasan kita, tapi diluar nalar dan logika kemampuan kita disebut mustahil dan omong kosong?
Apakah perlu teknologi agar Nabi Muhammad saw menembus langit secepat kilatan cahaya agar diyakini secara logis? Apakah perlu alat canggih untuk Nabi Musa agar lautan yang dibelah disebut peristiwa yang benar adanya?
Bukannya kemustahilan itu sebagai suatu yang mukjizat? Nabi Muhammad saw melakukan Isra' Mi'raj tanpa kecanggihan teknologi, Nabi Ibrahim kebal dibakar tanpa jubah besi, misalnya, dan Nabi Musa membelah laut tanpa inovasi alat tertentu adalah mukjizat dari Allah swt. Jadi barangkali kita terjebak pada keterbatasan diri sebagai alat ukur untuk menentukan sesuatu. Makanya tidak boleh kita memvonis mereka yang yakin pada mukjizat sebagai omong kosong hanya karena diluar keterbatasan kita.
Mengapa? Sebab banyak juga peristiwa yang terjadi di keseharian kita yang sulit dicerna akal, tapi itu benar-benar terjadi, namun bukan berarti menyingkirkan nilai ilmiah dan sesuatu yang saintific. Hanya kita perlu mendampingi saintific dengan kesadaran keterbatasan kita. Dari sini nasehat Albert Einstein sangat relevan untuk diperhatikan;
"Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa iman yang mendalam. Sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta." (Einstein, Albert. Science, Philosophyand Religion, A Symposium. New York, 194)
Wallahu 'alam
.jpg)

Komentar
Posting Komentar