Belajar Bijak

Sutan Irawansyah, S.Ag

Derasnya arus informasi media sosial telah sedikitnya mempengaruhi keputusan dan penilaian kita terhadap fenomena atau peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Katakanlah ketika algoritma lebih berpihak ketimbang kebenaran itu sendiri, sehingga salah dan benar menjadi bias. Hal ini diakibatkan keberpihakan pada algoritma jauh mendominasi daripada kebenaran itu sendiri. Sadar atau tidak.

Teman-teman tahu kasus pembacokan belakangan ini? Dilansir dalam laman berita MetroTV Peristiwa mencekam tersebut terjadi sekitar pukul 08.30 Waktu Indonesia Barat  (WIB) di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Pekanbaru. Korban yang diketahui bernama Faradilla Ayu diserang menggunakan senjata tajam secara tiba-tiba tepat saat dirinya tengah bersiap menjalani sidang seminar proposal.  

Serangan membabi buta tersebut mengakibatkan korban mengalami luka berat pada bagian kepala dan tangan hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah (Polda) Riau.

"Saat ini tersangka telah diamankan di Kepolisian Sektor Binawidya untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Penyidik juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara guna mengumpulkan alat bukti secara profesional," kata Zahwani di Pekanbaru, Kamis, 26 Februari 2026.

Pelaku dengan nama Reyhan Mufazar mengaku bahwa motif pembacokan ini disebabkan hubungan pribadi atau motif asmara. Usut punya usut ternyata pemantik amarah Reyhan memuncak adalah karena cintanya kepada Fara bertepuk sebelah tangan. Selama ini Reyhan menganggap perempuan yang dicintainya itu adalah kekasihnya, akan tetapi tidak dengan Fara.

"Kami tanyakan hubungan seperti apa, tersangka menyatakan dia merasa lebih dari sekedar teman, namun korban sendiri tidak merasakan hal yang sama," ungkap AKP Anggi Rian Diansyah.

Namun informasi ini tidak membuat netizen merasa puas, menimbulkan kembali pertanyaan “apa kiranya yang membuat Reyhan melakukan hal nekat tersebut? Benarkah hanya sebatas cintanya yang ditolak oleh Fara?”. Keluasan media dan kemudahan akan tersebarnya informasi telah mampu mengusut kisah dibalik pembacokan itu. Dimulai dengan tersebarnya video mesra antara Fara dan Reyhan. Kedekatan yang diperlihatkan dalam video tersebut menunjukkan bahwa hubungan mereka bukanlah hanya sebatas teman. Lalu, setelah diketahui lebih lanjut ternyata Reyhan adalah selingkuhan Fara. Mahasiswi yang kini tengah menjalani pengobatan medis akinat luka pembacokan ini telah memiliki kekasih dan tengah menjalani hubungan jarak jauh. Fakta inilah yang menjungkir balikan persepsi masyarakat.

Mulanya masyarakat mengecam Reyhan karena telah membabi buta, namun kini persepsi masyarakat beralih pada Fara yang bersalah akan perilakunya dan mewajarkan tindakan Reyhan karena sakit hati dst. Fakta ini juga yang mengendalikan emosi masyarakat menjadi iba, kasihan dan mewajarkan pembacokan yang dialami Fara.

Disinilah awal blunder itu terjadi.

Beginilah akibatnya ketika pikiran tidak mengendalikan emosi, karena yang terjadi adalah emosi yang akan mengendalikan pikiran. Demikian kata Simone Well. Saat emosi memimpin, maka penilaian pun akan kabur, keputusan menjadi bias. Dalam kondisi ini, manusia tidak lagi merespon realitas, melainkan bereaksi terhadap gejolak batinnya sendiri. Lalu berkaitan dengan berita yang tengah viral ini, membuat netizen menyampaikan pendapatnya melalui kolom komentar.




Mengapa korban menjadi pelaku dan pelaku menjadi korban?

Blunder seperti itu dalam ilmu logika dinamai appeal to pity, yaitu dimana emosi kita menentukan salah dan benarnya suatu argument atau bahkan keputusan. Benar ditentukan karena kasihan dan empati dan salah ditentukan karena benci. Inilah kekeliruan yang sering ditemukan di keseharian. Emosi yang kita miliki bukanlah landasan untuk melihat benar dan salahnya suatu fakta. Ada saatnya kita perlu empati tapi ada saatnya juga kita dituntut tegas untuk bersikap dan menilai fakta ini benar atau salah, sehingga jelas hitam dan putihnya. Bukan berarti mengenyampingkan emosi sama sekali, hanya saja kita harus adil menempatkan emosi atau empati pada tempatnya.

Maka Reyhan sudah jelas salah, entah dia korban perselingkuhan atau bukan yang pasti tindakan kriminal tetaplah kriminal, soal perselingkuhan itu lain hal. Adapun Fara tetaplah korban karena pembacokan yang menimpa dirinya. Oleh sebab itu tindakan Reyhan tidak bisa dinormalisasi karena kekecewan dan sakit hati yang diterimanya. Sekurang-kurangnya kita bisa menilai bahwa Reyhan salah dari sisi kriminalitasnya dan Fara pun salah dari sisi hubungannya yang jelas terlarang sejak awal.

Wallahu 'alam bi shawwab.

Komentar

Posting Komentar