Sutan Irawansyah, S.Ag
Menyikapi makin maraknya penyimpangan LGBT di Indonesia,
disamping juga pendukungnya yang terus gembar-gembor membela dan melindungi
mereka, bahkan sebagian pihak bela-belain ingin cari suaka di negeri lain. Yang
terakhir ini fakta yang terjadi di negeri Paman Sam, dimana seorang pria Gay
bernama Anton yang telah lama tinggal bersama pacar prianya di Amerika.
Anton datang ke AS pada tahun 2002 dengan visa turis dari
Jakarta. Setelah visanya habis, ia mengajukan suaka politik dan menerima izin
kerja sementara, sementara suakanya diproses.
Anton menghabiskan sebagian besar waktunya di Kota
Philadelphia, Pennsylvania. Meski Anton tinggal lama di Philadelphia, hal itu
tak menjamin dia bisa tinggal selamanya. Hal ini tetap berlaku sampai pihak
berwenang memutuskan apakah akan membuka kembali permohonan suaka politiknya.
Ketika aplikasi suaka dan bandingnya ditolak, petugas
imigrasi mengatakan bahwa Anton harus angkat kaki pada Senin 14 Februari 2011
lalu.
"Saya mendapat banyak dukungan dari orang-orang yang
mencintai saya dan menginginkan saya tinggal. Saya tak mengharapkan imbalan apa
pun dari negara ini, saya hanya ingin status saya menjadi legal di sini,"
ujar Anton. https://news.detik.com/berita/d-1572151/kisah-wni-gay-pencari-suaka-di-as
Belum lagi jagat media diramaikan dengan video orasi di Aksi
Kamisan ke-915 dari pria pengidap gay yang terang-terangan tanpa malu
memperjuangkan hak kaum LGBT. Dalam narasinya dia menyampaikan;
"Kami lesbian, kami gay, kami biseksual, kami
transgender, kami queer, kami interseks, kami aseksual, kami non-biner. Kami
ada di antara kalian, kami ada dan selalu ada, kami bukan ancaman."
Selain itu dia juga menyoroti peraturan presiden no.111
tahun 2025 terbaru yang memposisikan LGBT sebagai ancaman non-militer serta
mengkaitkannya dengan isu Papua dan Aceh. Dia melanjutkan;
"LGBT bukan ancaman bagi negara. Justru yang menjadi
ancaman adalah militeristik dalam mengelola negara." https://www.instagram.com/reel/Dat1YF8y80g/utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Agar disikapi secara adil, mari kita dalami terlebih dahulu
darimana ide awal LGBT itu bisa muncul sebelum bisa eksistensinya menglobal seperti sekarang?
Menarik disimak dari laman artikel INSISTS yang merangkum
Saturday Forum bertajuk perspektif Islam mengenai penyimpangan orientasi
seksual. Salah satu pemateri menyampaikan bahwa kita harus membedakan terlebih
dahulu antara Same-Sex Attraction dan Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender
atau biasa disingkat LGBT.
Istilah pertama mengarah pada orang yang memiliki
kecenderungan suka sama jenis, sedangkan istilah LGBT itu sebagai identitas
seseorang yang merasa bangga dan mengakui pada publik bahwa dirinya sebagai
penyuka sesama jenis.
Ide tentang perempuan bisa memenuhi kebutuhan seksnya tanpa
laki-laki adalah awal dari semua ini terjadi. Charlotte Bunch pernah menulis
artikel "Lesbians in Revolt" diharian feminis The Furies yang terbit
di Washington DC menyebutkan bahwa lesbianisme lebih dari sekedar pilihan dari
sebuah orientasi seksual. Ia adalah ekspresi melawan ketidakadilan gender.
Prof Hamid dalam kata pengantar buku "Indahnya
Keserasian Gender dalam Islam" menyebutkan bahwa feminisme dan gender
berakar dari Barat. Apa buktinya? Di Barat sendiri pada era pra-industri atau
tradisional dimana laki-laki adalah pemburu diluar rumah, sedangkan perempuan
adalah gatherer pemburu didalam rumah mengalami perubahan
menjadi masyarakat industri.
Mary Wollstoncraft menyebutkan bahwa pada abad ke-18 dahulu
perempuan bekerja diluar rumah karena dorongan dari kapitalisme industri, namun
yang awalnya sekedar kebutuhan jasmani malah perlahan bergeser menjadi ambisi
sosial, tuntutan hak sosial dan politik. Makanya di Barat terjadi kebingungan
saat harus memilih, "Apakah aku harus menjadi wanita karir atau ibu rumah
tangga?"
Bahkan penganut paham marxis-sosialis pun membenci praktek
relasi laki-laki dan perempuan di era pra-industri tadi. Tapi mereka tidak
sendirian, ditemani oleh kaum feminis radikalis yang mengusik pembagian hak dan
tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki yang dianggap
tidak adil. Karena wanita selalu dijadikan objek atau bahkan alat pemuas
laki-laki, akibatnya mereka tidak malu mendeklarasikan bahwa untuk memenuhi
kebutuhan seks bisa dilakukan tanpa bergantung pada laki-laki. Dari sinilah
awal Lesbianisme itu muncul.
Makanya bagi kaum Feminis, Lesbi adalah pencapaian
tertinggi. Sebab darinya perempuan tidak lagi kebergantungan pada laki-laki
untuk memuaskan hasrat seksualnya. Tidak heran jika kaum feminis memandang
bahwa Lesbian adalah wujud pembebasan perempuan dan sekaligus sebagai eskpresi
pemberontakan terhadap konstruksi perempuan yang didefinisikan masyakat
praktiarkis.
Wallahu 'alam bi shawwab
.jpg)
Komentar
Posting Komentar