Sutan Irawansyah, S.Ag
Okee kita lanjutin artikel sebelumnya..
Moral panic adalah istilah cemoohan dan ledekan yang dilemparkan oleh kelompok pro-LGBT yang menggambarkan suatu keadaan atau peritiwa orang yang didefinisikan sebagai ancaman terhadap nilai atau kepentingan masyarakat tertentu, di mana fenomena tersebut muncul disebabkan gaya dan streotip oleh media massa. Demikian menurut Stanley Cohen dalam Folk Devils and Moral Panic.
Dalam framework ini mereka melihat situasi kelompok kontra LGBT disebabkan homophobia yang disebarkan oleh media massa. Mereka mengklaim bahwa media massa telah membuat gambaran "ancaman" terhadap LGBT sehingga publik mudah tergiring dan mempercayai kebenaran yang diseminasi oleh media massa.
Intinya adalah bahwa media massa merupakan alasan utama mengapa masyarakat mengalami kepanikan terhadap kelompok penyintas LGBT. Karena publik digiring oleh media massa yang mencap "ancaman" terhadap LGBT. Menurut mereka justifikasi yang dilakukan media massa adalah stereotip yang keliru, andaikan saja memberikan infromasi yang benar, pasti publik akan merespon positif kehadiran LGBT ditengah-tengah mereka.
Benarkah LGBT ditampilkan dengan salah oleh media?
Mari kita paparkan berdasarkan bukti ilmiah dan akademis tentang fakta LGBT. Dalam salah jurnal bertajuk LGBT in Social, Psychological, and Religious Perspectives in Indonesia mengutip penelitian dari Abdul Hamid El-Qudah yang menyebutkan bahwa LGBT mengakibatkan 78% pelaku homoseksual terjangkit penyakit kelamin menular. Rata-rata usia kaum gay adalah 42 tahun dan menurun menjadi 39 tahun jika korban AIDS dari golongan gay dimasukkan ke dalamnya.
Tak kalah mengejutkan penelitian dari J.M. Cohen dalam jurnal Behavioral Therapy menampilkan data bahwa gangguan depresi mayor, kecemasan, Posttraumatic Stress Disorder atau PTSD dan kecenderungan bunuh diri lebih tinggi dialami oleh kelompok homoseksual daripada heteroseksual.
Jadi apakah gambaran media massa yang menampilkan narasi "ancaman" terhadap LGBT dinyatakan salah? Justru benar. Sebab itu media massa tidak keliru menampilkan streotip negatif bagi mereka karena eksistensinya benar-benar ancaman yang menakutkan.
Bersambung.....

Komentar
Posting Komentar