فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ
قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖ ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى
وَمَنْ مَّعَهٗۗ اَلَآ اِنَّمَا طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ
اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
Apabila kemakmuran datang kepada mereka, mereka berkata,
“Ini karena usaha kami.” Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab
kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka
di tangan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Disini Allah swt mengawali ayatnya menggunakan adat
syarat dengan huruf idza, lalu terdapat adat syarat yang
kedua dengan huruf in. Kedua adat tersebut diartikan “jika” tapi
apa perbedaan kedua adat tersebut dalam konteks ayat ini?
1.
Idza = huruf idza dalam
konteks ayat ini dimaknai dengan liltakhqiq yang artinya membenarkan
atau meyakini. Artinya tentang keyakinan terjadinya kondisi tersebut berupa
kebaikan yang melimpah untuk mereka. Seperti ucapan;
«إذا طلعت الشمس فعلت كذا»
Jika
matahari terbit, maka aku akan melakukan itu
Ucapan ini
menggunakan huruf idza yang berarti meyakini dan membenarkan bahwa kondisi matahari
akan benar-benar terbit. Berarti kebaikan itu memang betul-betul ada menimpa
mereka berupa kebaikan yang sangat melimpah sekaligus mereka pun akan pasti
mengucapkan penuh yakin bahwa kenikmatan dan kebaikan ini disebabkan usaha
mereka sendiri. (Ilm Ma’ani fil Qur’anil Karim)
Penisbahan fiil madhi pada idza menguatkan makna
diatas. (Ilm Ma’ani fil Qur’anil Karim)
2.
In = untuk menunjukan aspek
keraguan. Bagi Ibn Asyur dalam kitab At Tahrir wa At Tanwir maksudnya
adalah li nadrati wuqu’I as sayyi’ah yakni langkanya kejadian tersebut.
Artinya keburukan atau kesusahan yang menimpa
mereka adalah suatu kejadian yang sangat langka sekali, sehingga Musa tidak
bisa disalahkan atas tuduhan penyebab terjadinya kesusahan diantara mereka. Bahkan
boleh jadi mereka sendiri ragu menuduh Musa.
Pensibahan fiil mudhare pada in pun menguatkan kesan diatas. (Ilm Ma’ani fil Qur’anil Karim)
Lalu mengapa kalimat Al Hasanah diberikan Al tetapi
untuk kalimat sayyi’atun tidak diberikan huruf al? Singkatnya Al
Hasanah dalam bentuk ma’rifat tapi kalimat sayyi’atun dalam
bentuk nakiroh.
Menurut Muhammad Makawi dalam kitab ilm ma’ani fil
quranil karim
Bahwa al hasanah dijadikan ma’rifat karena
untuk memberikan faidah banyaknya kebaikan dan kenikmatan bagi mereka, maka
kebaikan yang dimaksud dalam ayat ini adalah suatu perkara yang diketahui oleh
mereka. Menurut keterangan Ibn Asyur kebaikan yang dimaksud dengan adanya huruf
Al adalah kebaikan yang sudah terlintas ada dalam alam pikiran.
Sekaligus hal tersebut juga menunjukan seringnya kebaikan
itu terjadi diantara mereka.
Untuk sayyi’at menunjukan Amrun thari’un yaitu
suatu perkara yang asing dan diluar kebiasaan, bahkan tidak terbersit dalam
pikiran mereka. Makanya mereka cepat menuduh musa karena kebodohan dan
ketidaktahuan atas kejadian yang diluar kebiasaan.
Berarti mereka seringkali dilimpahi kebaikan yang sangat
banyak sampai-sampai kebuurukan pun tidak dikenali oleh mereka.
Apakah sudah cukup sampai sini? Tentunya belum, insyaAllah
akan bersambung……..
Wallahu'alam bi shawwab.

Komentar
Posting Komentar