Penelaahan aspek balaghah terhadap surat Al ‘Araf ayat 131


Sutan Irawansyah. S.Ag

فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖ ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗۗ اَلَآ اِنَّمَا طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Apabila kemakmuran datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini karena usaha kami.” Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Disini Allah swt mengawali ayatnya menggunakan adat syarat dengan huruf idza, lalu terdapat adat syarat yang kedua dengan huruf in. Kedua adat tersebut diartikan “jika” tapi apa perbedaan kedua adat tersebut dalam konteks ayat ini?

1.     Idza = huruf idza dalam konteks ayat ini dimaknai dengan liltakhqiq yang artinya membenarkan atau meyakini. Artinya tentang keyakinan terjadinya kondisi tersebut berupa kebaikan yang melimpah untuk mereka. Seperti ucapan;

«إذا طلعت الشمس فعلت كذا»

            Jika matahari terbit, maka aku akan melakukan itu

            Ucapan ini menggunakan huruf idza yang berarti meyakini dan membenarkan bahwa kondisi matahari akan benar-benar terbit. Berarti kebaikan itu memang betul-betul ada menimpa mereka berupa kebaikan yang sangat melimpah sekaligus mereka pun akan pasti mengucapkan penuh yakin bahwa kenikmatan dan kebaikan ini disebabkan usaha mereka sendiri. (Ilm Ma’ani fil Qur’anil Karim)

Penisbahan fiil madhi pada idza menguatkan makna diatas. (Ilm Ma’ani fil Qur’anil Karim)

2.     In = untuk menunjukan aspek keraguan. Bagi Ibn Asyur dalam kitab At Tahrir wa At Tanwir maksudnya adalah li nadrati wuqu’I as sayyi’ah yakni langkanya kejadian tersebut.

Artinya keburukan atau kesusahan yang menimpa mereka adalah suatu kejadian yang sangat langka sekali, sehingga Musa tidak bisa disalahkan atas tuduhan penyebab terjadinya kesusahan diantara mereka. Bahkan boleh jadi mereka sendiri ragu menuduh Musa.

Pensibahan fiil mudhare pada in pun menguatkan kesan diatas. (Ilm Ma’ani fil Qur’anil Karim)

Lalu mengapa kalimat Al Hasanah diberikan Al tetapi untuk kalimat sayyi’atun tidak diberikan huruf al? Singkatnya Al Hasanah dalam bentuk ma’rifat tapi kalimat sayyi’atun dalam bentuk nakiroh.

Menurut Muhammad Makawi dalam kitab ilm ma’ani fil quranil karim

Bahwa al hasanah dijadikan ma’rifat karena untuk memberikan faidah banyaknya kebaikan dan kenikmatan bagi mereka, maka kebaikan yang dimaksud dalam ayat ini adalah suatu perkara yang diketahui oleh mereka. Menurut keterangan Ibn Asyur kebaikan yang dimaksud dengan adanya huruf Al adalah kebaikan yang sudah terlintas ada dalam alam pikiran.

Sekaligus hal tersebut juga menunjukan seringnya kebaikan itu terjadi diantara mereka.

Untuk sayyi’at menunjukan Amrun thari’un yaitu suatu perkara yang asing dan diluar kebiasaan, bahkan tidak terbersit dalam pikiran mereka. Makanya mereka cepat menuduh musa karena kebodohan dan ketidaktahuan atas kejadian yang diluar kebiasaan.

Berarti mereka seringkali dilimpahi kebaikan yang sangat banyak sampai-sampai kebuurukan pun tidak dikenali oleh mereka.

Apakah sudah cukup sampai sini? Tentunya belum, insyaAllah akan bersambung……..


Wallahu'alam bi shawwab.

Komentar