Sutan Irawansyah, S.Ag
Istilah "boti" di media sosial saat ini menempati posisi yang sangat ironis sekaligus kritis, mengapa? Pasalnya isu dan berita yang menyangkut orientasi seksual personal ini banyak sekali diadopsi sebagai karakter oleh influencer dan beberapa pengguna akun media sosial lainnya. Khususnya laki-laki yang feminim, karena memang istilah "boti" ini digunakan sebagai stima negatif atau toxic masculinity untuk menstereotipkan laki-laki yang memiliki gestur atau ekspresi feminim.
Trend "boti" merupakan bentuk ekspresi yang kontradiktif dengan ekspektasi sosial, soalnya Connell mengaitkan maskulinitas hegemonik dengan kekuatan, dominasi dan indepedensi, adapun feminitas dengan kelembutan dan emosionalitas. Tetapi trend "boti" ini menandai adanya ekspresi diri yang tidak sepenuhnya sejalan dengan norma gender konvensional. Akibatnya menghadapi stigma dan pelabelan negatif, karena boti ini mengarah pada laki-laki yang bergestur kemayu, lembut dan dominan feminim.
Istilah ini pertama kali muncul dari komunitas Gay yang merujuk pada individu yang mengambil peran reseptif atau pasif dalam hubungan seksual sesama jenis, khususnya di kalangan pria gay. Boti itu sendiri adalah plesetan atas adaptasi dari kata bahasa Inggris bottom. istilah ini tidak hanya berkaitan dengan posisi seksual, tetapi juga diasosiasikan dengan ekspresi diri yang lebih feminin atau submisif.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah "boti" ini harus diakui sebagai ekspresi sehingga dianggap suatu yang normal dan harus diakui sebagai kebebasan ekspresi gender dan seksualitas ditengah masyarakat sosial yang plural? Atau harus kita lawan disebabkan berlawanan dengan norma agama, sosial dan budaya. Sehingga kehadirannya tidak bisa diterima dan diakui sebagai ekspresi, karena diwilayah agama tidak ada istilah laki-laki seperti perempuan.
Coba kita simak salah satu cuplikan bantahan yang menolak dan menentang eksistensi "boti"
Lewat kanal youtube Gerakanpis (https://www.youtube.com/watch?v=PeNsXSe_ZHk) yang menampilkan sosok Ade Armando dengan durasi 3:47 ini memaparkan tanggapan dan pandangannya terkait "boti". Dalam video berjudul BOTI Sudah Ada dalam Budaya Indonesia Sejak Lama, Jangan dimusihi! ini mengawalinya dengan definisi "boti"
"Boti ini sebuah istilah yang semula datang dari bahasa gaul komunitas Gay. Boti merujuk pada gay yang berperan seperti perempuan jadi dalam pasangan gay kan memang ada yang berposisi sebagai laki-laki dan ada yang berposisi sebagai perempuan, nah BOTI ini yang berposisi sebagai perempuan istilah BOTI sendiri adalah pelesetan dari kata bottom alias di bawah jaditi berada di bawah dalam hubungan pasangan itu."
Lalu di detik 29 dia memaparkan suatu fakta realita yang terjadi bahwa sekarang ini ada semacam penyebaran kebencian terhadap boti terutama di media sosial ini. Kemudian dia menampilkan salah satu contoh akun yang menyebarkan kebencian terhadap "boti". di menit 1.40 dia berstatemen bahwa antipati terhadap boti adalah sikap berlebihan. Benarkah demikian?
Saya rasa yang berlebihan itu anda sendiri yang mewajarkan dan menormalisasi boti, karena Islam dan fitrah manusia tidak akan pernah bisa menerima gender ketiga setelah feminim dan maskulin. Lalu mengapa antipati dan menolak "boti" dianggap sikap berlebihan? Selanjutnya dia berargumen bahwa "boti" itu punya akar budayanya, lantas mengapa kita harus menentangnya?
"Kalau kita merujuk pengertian di atas Boti sudah ada di tengah-tengah masyarakat Jauh sebelum istilah itu populer itu bisa dilihat dari sejarah dan budaya di Indonesia yang mengakui keberagaman ekspresi gender dan seksualitas dalam budaya Bugis adaer yang diakui oroane makunrai calalai calabai dan bisu dari 5 gender itu calabai sepadan dengan boti boti juga jadi sosok penting dalam pertunjukan seni Nusantara menurut situs historia.id di Aceh Mere disebut sadati di Padang Paryaman Sumatera Barat disebut anak Jawi di Jawa Timur disebut tandak."
Apakah hanya karena satu ekspresi yang diadopsi manusia tiba-tiba dianggap benar dan wajar? Apakah karena dia itu mengakar pada budaya atau tradisi bisa jadi standar yang benar? Ini kecacatan logika yang sangat fatal. Inilah bukti akibat dari kebenaran tidak punya standar yang pasti, dia akan terombang-ambing dalam ambiguitas dan polarisasi yang bias dan tidak jelas. Oleh sebab itu suatu ekspresi bisa dianggap benar bukan karena budaya atau diamalkan manusia, tetapi dari agama. Karena itulah kebanaran yang absolut.
Dan bukan berarti membenci "boti" sama artinya dengan membenci manusia, itu dua hal yang berbeda bung. Kita sangat menghargai mereka sebagai manusia, tapi tidak untuk ekspresi yang mereka adopsi. Bukan karena menjegal nilai kebebasan ekspresi, karena apalah artinya bebas ekspresi namun penuh ironi? Tetapi kebebasan ekspresi mesti dibatasi dengan norma agama dan norma dirinya sebagai manusia. Oleh sebab itu, jika Ade Armando mengajak agar saling menghormati, maka tidak ada cara yang paling menghinakan pada sesama selain membiarkan atau mendukung eksistensi "boti" ini. Jadi Ade sendiri tidak pernah benar-benar menghormati.
Justru jika ingin benar-benar menghormati harus dengan nilai agama Islam yang menjungjung tinggi nilai fitrah manusia. Lebih dari itu yang kita benci adalah perilakunya bukan orangnya. Sehingga yang harus dilakukan adalah upaya perangkulan, karena boleh jadi mereka adalah qawmun tajhalun. Jadi tindakan penghujatan, pemukulan, hingga pengucilan tidak bisa diperkenankan, apalagi sampai membatasi aktifitas sipil. Yang dilarang hanya perilaku penyimpangan seksualnya.
Kehadiran "boti" di masyarakat tidak boleh diakui sebagai ekspresi apalagi sampai menerimanya dengan tanpa mendiskreditkan posisinya sebagai manusia. Ekspresi "boti" tetap sebagai pelanggaran dan penyimpangan, sehingga agama Islam melaknat perilaku demikian;
Wallahu 'alam bi shawwab


Komentar
Posting Komentar