Mendedah Kecacatan Logika Pejabat Kita

Sutan Irawansyah, S.Ag

Akhir-akhir ini media sosial sedang ramai menyorot sosok eks wamen luar negeri 3 bulan era pemerintahan SBY. Siapa dia? Namanya adalah Dino Patti Djalal yang mendapatkan bintang mahaputera adipradana dari Presiden Prabowo pada tanggal 25 Agustus 2025. Kalau kata Gen-z beliau itu bukan sembarang beliau, ini dibuktikan dari penuturan sekaliber Pak Anies Baswedan yang dengan tegas menyebut pak Dino Patti Djalal bukanlah pejabat atau diplomat karbitan karena memiliki rekam jejak panjang yang meniti karier dari bawah yang solid serta pengalaman kepemimpinan yang luas di dunia internasional selama puluhan tahun. 

Apa yang dikatakan Pak Anies bukan sekedar bukti melainkan bentuk pembelaan dan pasang badan untuk  Pak Dino yang mendapatkan respon atas sentilan  dari Seskab Tedy terkait analisis kritis dan saran tentang lawatan luar negeri presiden Prabowo. Dalam video yang kurang lebih berdurasi 6 menit 43 detik seskab Tedy memberikan tebal pada kalimat 3 Bulan.

Tentu mengundang pertanyaan, apa alasan seskab mempertebal kalimat 3 bulan? Nah jika kita spill kebiasaan pak Dino dalam menganalisis dan melakukan upaya kritis jika ingin menekankan sesuatu biasanya diberikan tebal dan diberi warna berbeda dalam naskahnya, nah motif yang dilakukan Seskab tipis-tipis hampir sama, sedikit menyerang personal. Sebelum lahirnya Tedy ke bumi, pak Dino sudah menjadi sosok diploma muda, lantas dijatuhkan kredibilitas dan integritasnya hanya dengan satu kalimat 3 bulan. Tentu sangat tidak adil jika menilai prestasi dari durasi, karena faktanya Pak Dino lahir dari bawah tanpa instan, tidak seperti Tedy yang ujug-ujug menang give away.

Saya pun tidak rela mendengarnya, sang ahli dikritik oleh soft spoken kaya dia dengan balasan kalimat cuma 3 bulan. 

Bukankah disini kita melihat fakta pemerintah seperti menghancurkan kredibilitas dan kapasitas pakar? Apakah ini yang diprediksi Tom Nicols dengan death expertice? Oke hal ini kita bisa bahas dilain kesempatan. Kalau mau konsisten dengan statement bahwa diplomasi itu bicara soal hasil. Manfaat nyata bagi bangsa, maka masa lama jabatan tidak jauh lebih penting dari kontribusi dan dedikasi, benar kan? Maka Seskab Tedy harusnya lebih jujur mengatakan bahwa dedikasi Pak Dino lebih besar jasanya dalam diplomasi untuk bangsa meski disebut Seskab Tedy diberi kesempatan 3 bulan. 

Lebih ironisnya lagi lontaran kritikan dari Habiburrokhman yang menjabat sebagai ketua komisi III DPR RI dari partai fraksi Gerindra. Dalam salah satu wawancaranya oleh awak media dia merespon soal kritikan dari Pak Dino,


"Nanti dulu ditanya, zamannya Pak Dino sehebat apa sih? Kok sekarang menjadi orang yang sok paling Kemlu gitu loh. Sok paling Kemlu sendiri sedunia, gitu kan ya. Nanti publik akan bertanya seperti ini juga," katanya. Oleh karena itu, dia mempertanyakan sudah sejauh apa pemahaman Dino Patti Djalal terkait etika sebagai mantan Pejabat pemerintah. Hal ini tentunya berbeda dengan LSM yang melakukan kritik. "Teman-teman LSM mengkritik, ya silakan ya, tapi kalau seorang mantan Wamenlu 3 bulan ya kan ya, menyampaikan kritikan ya hendaknya lebih elegan, gitu," pungkasnya.

Mari kita bedah perlahan uraian demi uraiannya;

"Nanti dulu ditanya, zamannya Pak Dino sehebat apa sih? Kok sekarang menjadi orang yang sok paling Kemlu gitu loh. Sok paling Kemlu sendiri sedunia, gitu kan ya.

Narasi ini sarat akan tendensi personal yang mengarah pada sentimen ketimbang mengkritik kembali dengan argumen. Apalagi sampai mempersoalkan kredibilitas Pak Dino dengan kalimat Pak Dino sehabat apa sih? Kok sekarang menjadi orang yang sok paling Kemlu gitu loh. Sok paling Kemlu sendiri sedunia, gitu kan ya.

Dalam logical fallacy ini disebut argumentum ad hominem, yaitu struktur arguementasi yang dibangun untuk menyerang personal atau kepribadian seseorang, seperti kalimat, "Emang kamu bisa apa? Kok malah jadi sok alim sih? 

Kemudian ada kalimat, "Nanti publik akan bertanya seperti ini juga?" nah kalau ini Appeal to Common Sense, kenapa? Apa memang sudah pasti publik akan mempertanyakannya? Buktinya saya sebagai publik tidak sama sekali toh? Disebut Appeal to Common Sense ketika seseorang berargumen dengan menjadikan perasaan umum sebagai dasar, "Semua orang juga tahu bahwa tanpa agama hidup kita tak bermakna" Klaim ini perlu pembuktian dengan fakta dan data tanpa mendasarkan pada "Semua orang tahu" . 

Percis seperti narasi diatas lewat kalimat, "Nanti publik akan bertanya seperti ini juga" Apakah persoalan tentang kredibilitas Pak Dino itu benar-benar jelek hanya karena publik bertanya dengan narasi seperti beliau? Yang padahal belum tentu juga publik akan bertanya?

Nah itulah sedikit catatan mendedah kecacatan logika pejabat kita sebagai pelajaran agar tidak terjerumus pada jurang kecacatan berpikir dalam keseharian.

Komentar