Sejak dahulu, termasuk di peradaban Yunani Kuno sebelum abad ke-6 potensi manusia itu sangatlah terbatas untuk menjawab ragam gejala fenomena alam, disamping ketidaktahuan, keterbatasan dan ketakutan manusia sendiri. Karena mengalami kesulitan itu, akhirnya manusia mengandalkan imajinasi, khayalan dan intuisinya tanpa ada upaya kritis. Makanya satu-satunya cara yang mudah adalah menghubungkan fenomena kosmos/semsesta dengan daya magis dan supranatural. Makanya sangat irasional dan tidak ada hubungannya sama sekali.
Sebelum abad ke-6 keterbatasan inderawi manusia dalam menemukan rahasia-rahasia dibalik fenomena semesta, sehingga manusia mengasosiasikan semesta dengan entitas yang besar. Dahulu kala tidak aneh jika petir, halilintar, gerhana dll kerap diasumsikan sebagai dewa. Misalnya dewa Thor yang memutarkan palunya lalu memunculkan petir dan gemuruh, akhirnya petir dan gemuruh itu dianggap berasal dari Thor yang memutarkan palu dengan menunggangi kereta yang ditarik kuda. Dst.
Sadari atau tidak kepercayaan terhadap adanya entitas yang lebih tinggi dibalik fenomena semesta telah sedikit banyaknya menjadi kepercayaan yang mempengaruhi tindakan sosial. Seperti dewa Thor tadi yang dijadikan dewa kesuburan masyarakat Skandinavia saat itu. Makanya kalau terjadi kekeringan masyarakat Skandinavia melakukan persembahan disebabkan Thor diculik oleh raksasa. Keyakinan tersebut turun-temurun dari leluhur dalam bentuk kisah atau cerita, maka hal ini dinamakan mitos.
Mengapa manusia mudah percaya takhayul? Bahkan dengan mudahnya menghubungkan gejala alam dengan kekuatan supranatural?
Dalam perspektif psikologi, fenomena seperti itu disebut magical thingking, yaitu sebuah pola pikir di mana seseorang meyakini bahwa tindakan tertentu dapat mempengaruhi hasil, meskipun tidak ada hubungan kasual yang nyata.
Bruce Hood seorang psikolog menyebutkan bahwa otak manusia memang dirancang untuk menemukan pola. Dalam bukunya supersense disebutkan bahwa takhayul adalah produk sampingan dari otak yang terlalu pintar dalam melihat keterhubungan.
Oleh sebab itu manusia selalu menemukan pola (gejala alam dll) dan makna (dewa dll) dalam kejadian acak. Dalam perspektif neurosains disebut patternicity. Misalnya, saat gempa meyakini dewa yang memangku bumi sedang memindahkan bumi dair bahu kanan ke bahu kiri. Sebetulnya ini bukan kesalahan berpikir, tetapi metode bertahan hidup, buktinya mengkontril tindakan sosial, seperti melakukan persembahan dll. Jangan aneh jika kadang kepala kita memilih percaya dulu biar pikir belakangan.
Pada akhirnya mungkin manusia percaya takhayul bukan karena otak kita kosong, tetapi otak kita membenci ketidatahuan dan kekosongan.
Wallahu 'alam bi shawwab.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar