Tidak Pernah Mendahului Takdir



Sutan Irawansyah, S.Ag

Pernahkah anda mengalami momen dimana hasil mengkhianati usaha? Pada saat itu apa yang benar-benar akan anda percayai? Mungkin motivasi usaha tidak pernah mengkhianati hasil jadi omong kosong ditelinga anda, kalimat yang sudah basi dan tidak berlaku lagi. Bahkan hampir-hampir anda meragukan adagium man jadda wa jadda itu tidak sepenuhnya benar. Lalu siapa yang harus disalahkan? Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali diri anda sendiri. Karena yang menyebabkan anda kecewa tidak lain karena diri sendiri yang mengizinkannya agar selalu memaksakan usaha biar relevan dengan hasil.

Padahal jaminan hasil tidak ditentukan oleh usaha, atau usaha pun tidak pernah menjamin hasil. Bahkan banyak sekali usahanya yang sama tetapi kenapa keuntungannya tidak pernah benar-benar sama, artinya apa yang anda ikhtiarkan bukan alasan anda untuk berhasil atau mendapatkan hasil. Betapa banyak orang yang belajar keras, berjualan dari pagi hingga sore hari, bertukar keringat dan berpacu dengan waktu namun mereka punya hasil yang berbeda. Oleh sebab itu pikiran kita harus sedikit digeser bahwa apa yang diusahakan itu tidak melulu tentang apa yang dihasilkan, karena hasil adalah satu hal dan usaha adalah hal lain.

Mari kita awali dari hikmah Athaillah;

سَوَابِقُ الهِماَمِ لاَ تَحْرِقُ اَسْوَرَالاَقْدَارِ

"Semangat yang menggebu tak dapat menembus tirai takdir”

Kita diingatkan oleh pesan bait ini bahwa apa yang dihasilkan bukan disebabkan apa yang diusahakan, melainkan karena qadarullah. Oleh sebab itu sehebat apapun kita berikhtiar tidak akan pernah mampu menembus batas takdir, karena yang diusahakan itu sendiri adalah takdir-Nya. Jadi sebenarnya tidak ada orang yang kecewa disebabkan hasil berbeda dengan usaha kecuali dia sendiri yang menolak tidak menginginkan hasil yang terjadi. Makannya soal yang terakhir adalah tentang penerimaan bukan lagi usaha yang dilakukan.

Abdul Majid As Sanusi dalam Syarah Al Hikam Al Athaiyyah (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1989, h. 16) pernah bilang bahwa keinginan anda yang menggebu tidak akan memberikan pengaruh apapun. Tapi bukan berarti putus harapan atau sia-sia juga punya keinginan, karena yang diharapkan Ibn Athaillah adalah jangan terlalu berharap pada tenaga kita, tetapi harapkan segalanya kepada sang Maha Kuasa. Demikian juga Syaikh Ramadhan Al Buthi saat memberikan syarah pada bait diatas yang menurutnya sawabiq adalah ambisi yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk membangun industri, studi atau yang sejenisnya, sekuat atau sehebat apapun keinginan manusia sekalipun tidak akan mampu menembus tembok-tembok takdir.

Lalu terkait kalimat aswar yaitu bentuk plural dari suurun yang berarti tembok tinggi yang mengelilingi suatu negeri atau kota. Ibn Athaillah menggunakan metafora untuk memaknai takdir yang selalu selangkah lebih awal ketimbang kita layaknya tembok raksasa yang sulit ditembus dan dilewati, demikian pungkas Syaikh Ramadhan Al Buthi dalam kitabnya Al Hikam Al Athaiyyah Syarah wa Tahlil

فأنت لا تستطيع أن تلغي أو تقفر فوق أقدار الله تعالى بهممك ومحاولاتك مهما أوتيت من براعة الخيمة وخوارق القوة

Kamu tidak dapat melampaui ketetapan Allah dengan ambisi dan usaha yang dilakukan, sekalipun memiliki keterampilan dan ambisi yang kuat. (Al Hikam Al Athaiyyah Syarah wa Tahlil, Dar Al Fikr: Damaskus, 2003, h. 60)

Komentar