Sutan Irawansyah
Saya kira semua akan menjawab sama ketika disuguhkan dengan pertanyaan, "apakah anda ingin bahagia?" Semua sepakat jawabnya "iyaa" Sejauh ini semua orang masih mendambakan kata bahagia, tapi pertanyaan selanjutnya, "apakah sudah bahagia?" Baru jawaban pertanyaan ini beragam, ada yang mengatakan sudah hingga ada yang mengatakan belum. Tidak heran bukan? mengapa ada saja orang yang mati-matian habisin energi dan pikiran demi kata dan makna bahagia, kalau meminjam istilah Albert, ketika manusia habis habisan ingin jadi manusia normal, dia sejatinya gagal dan absurd, padahal untuk menjadi manusia normal tinggal jalani saja. Begitu juga bahagia, tak perlu kamu mencari kata dan makna bahagia untuk jadi bahagia, cukup dengan kamu menjadi bahagia. Maka sudah saatnya yang harus kamu lakukan, menghijrahkan kata mencari menuju menjadi. Maka dimulai dari mana untuk menghijrahkannya? Sederhana, jawabanya ada di Imam Al Ghazali.
Imam Ghazali mengawali pembahasan kebahagiaan itu dengan ma'rifatu nafs, yaitu mengenal diri sendiri. Bagi Al Ghazali mengenal diri bukan sebatas mengetahui apa yang kita suka dan apa yang kita benci, memang ini bagian mengenali dirimu, karena barangkali yang membuat hari ini tidak bahagia karena kegagalan mengetahui dirimu sendiri. Karena kamu tidak tahu kesukaan baju mu apaa, akhirnya kamu ikut ikutan trend, karena kamu tidak tahu batas kepedasan makanan, lagi lagi kamu ikut ikutan kadar pedas orang lain. Padahal semuanya membahayakan dirimu. Makanya ini yang sempat di singgung Buya Hamka, "Memang , sebab-sebab buat mencapai bahagia amat banyak, tetapi kita manusia mencari juga yang lain. Dia ada dalam tangan kita, tetapi kita cari yang ada di tangan orang lain karena yang ada ditangan orang itu kelihatan indah." Inilah yang menyebabkan kamu selalu terhalang dari menjadi bahagia, karena kamu gagal melihat kedalam dirimu sendiri.
Ada sepenggal cerita sufi yang menarik, cerita ini lebih populer diadopsikan kepada Hasan Al Bashri dan Rabi'ah. Saat itu Rabi'ah sedang mencari kunci rumahnya di tengah tengah kondisi rumahnya yang gelap, tanpa penerangan. Namun usaha Rabi'ah tak kunjung menuai hasil, karenannya Rabi'ah mencoba keluar lewat jendela, lalu tak lama dari sana Rabi'ah langsung menyelidiki keberadaan kunci dari arah luar. Disaat saat mencari kunci, lewat lah Hasan Al Bahsri lalu bertanya dengan heran, "apa yang kamu lakukan wahai Rabi'ah?" Rabi'ah menjawab "aku mencari kunci rumahku, makanya aku keluar supaya aku bisa melihat dari arah terang" Tidak lama Hasan Al Bashri menjawab, "kalau kuncimu hilang didalam rumah, sementara rumahmu gelap, buatlah rumahmu menjadi terang, sehingga kamu mampu menemukan kuncimu yang hilang."
Dari kisah menarik itu kamu dapat satu kunci tentang bahagia, bahwa letak kebahagiaan dalam dirimu kuncinya adalah terangi dirimu sendiri, atau terangi rumahmu, maka dengan sendirinya kamu dapat menjadi makna bahagia menurut mu. Makanya, kunci kebahagiaan mu yang sejati ada dalam dirimu yang sejati. Bagaimana kamu dapat bahagia? jika dirimu sendiri sulit kamu kenali, jika kamu tidak mampu mengenal dirimu, maka bagaimana kamu akan menemukan bahagia versi dirimu?
Kamu jangan terjebak dengan kata bahagia adalah kaya, bahagia adalah jabatan, bahagia adalah kekuasaan. Tidak. Bahagia adalah dirimu yang sejati. Jika puncak bahagia adalah kepuasan dan ketuntasan, maka puas dan tuntas hanya dapat dilewati melalui pengenalan terhadap dirimu sendiri. Jika kamu tidak tahu tentang segala yang ada dalam dirimu, maka jangan harap kamu sampai puas dan tuntas, bahkan bahagia.
Warna hitam adalah baju kesukaanmu, seblak adalah makanan kecintaanmu, dst. Maka ketika kita tahu, dengan sendirinya ketika makan seblak kamu puas dan tuntas, karena seblak itu makanan kesukaanmu, ketika memakai baju hitam kamu menjadi puas dan tuntas, dengan sendirinya kamu bahagia. Sekali lagi kunci nya ada didalam dirimu.
Kenali dan pahami siapa dirimu sebenarnya yang sebagai manusia. Entah tentang bakat, potensi, kompetensi dan semuanya tentang dirimu sendiri. Selanjutnya kata Al Ghazali, langkah pertama untuk mengenal dirimu adalah menyadari bahwa dirimu terdiri dari jasad dan hati atau ruh. Artinya, mengenali dirimu sebagai jasad berarti mengenali dirimu sebagai manusia, apapun itu yang berkaitan dengan jasadiyyah dalam dirimu maka kenalilah. Yang kedua pahami dirimu sebagai ruh atau hati, ialah mengenali dirimu yang bukan sebagai manusia saja, melainkan sebagai hamba.
Makanya kata Al Ghazali, salah satu kegagalan kita dalam mengenali diri ialah tertutup oleh nafsu kita. Karena atas nama gengsi dan gaya gayaan kamu ikut trend, meskipun padahal kamu merasa terganggu dan gak suka. Atas nama viral kamu ikut ikutan demi supaya viral ingin dikenal juga. Ini disebabkan nafsunya tidak bisa dikendalikan dengan kehambaan pada diri manusia, karena ketika manusia mampu mengenali dirinya sebagai hamba, maka nafsu ada pada kuasanya, bukan sebaliknya.
Sebab itu, menjadi manusia dan menjadi hamba adalah tangga untukmu menjadi bahagia. Jangan mau mati matian meniru orang, cukup menjadi dirimu sendiri sebagai manusia dan hamba yang bahagia.
Terakhir, mari kita hijrahkan kalimat "mencari bahagia" Menuju "menjadi bahagia" Karena awal hijrah adalah awal mengenali dirimu. Sadari dirimu sebagai manusia sebagai hamba, ketika kamu mampu mengenali keduanya, niscaya kamu dapat menentukan bahagia menurut versi dirimu sendiri.
Jika mengenal sebagai manusia sebagai hamba, dengn sendirinya tidak mungkin ada kata bahagia dalam kemaksiatan, bahagia dalam kedzaliman. Sejatinya bahagia adalah menjadi manusia dan menjadi hamba.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar