Transformasi Paradigma Pendidikan Kita : Suatu tinjauan kritis (III)

Sutan Irawansyah

Lanjut... 

Berawal dari pergeseran paradigma terhadap satu istilah pendidikan inilah pada akhirnya mengakibatkan cara pandang yang keliru, seperti fenomena lain hari ini ialah ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke institusi pendidikan sering lupa niat baik sejak awal. Faktanya, hal pertama yang ditanyakan orang tua kepada petugas sekolah adalah seputar administrasi, makanya bagian administrasi sering jadi penghambat anak gagal sekolah, bahkan pihak sekolah pun sering membatasi peserta didik yang dinilai memiliki tunggakan di administrasi. Artinya pihak sekolah menganggap peserta didik bukan sebagai amanah, melainkan sebagai pelanggan (stakeholders) menggunakan pendekatan konsep produsen-konsumen yang didominasi nilai-nilai duniawi.

Dalam hal tujuan, jika memang bertujuan mencari ridho Allah maka cara-cara yang ditempuh harus sesuai dengan aturan Allah, cara-cara yang salah tidak akan menghasilkan anak yang soleh. Secara operasional, penyelenggaraan pendidikan di sekolah dituntut benar-benar mampu menanamkan nilai-nilai etika dan moral Islami. Semua aktivitas pendidikan di sekolah harus bernuansa mendidik, karena transformasi pendidikan bukan hanya tanggungjawab guru melainkan tanggungjawab semua orang.

Sampai sini muncul fenomena selanjutnya bahwa beban moral yang berada pada pundak orang tuanya merasa telah tergantikan dengan hadirnya dan penyerahan anak nya kepada guru, sebab itu disadari atau tidak peran didik dari orang tua secara bertahap tereduksi oleh sistem bernama sekolah. Akibatnya, kondisi dan fenomena ini menyebabkan semakin menjauhnya hakikat pendidikat dalam paradigma masyarakat pada umumnya. Banyak faktor-faktor yang melatar belakangi munculnya fenomena-fenomena ini, namun satu hal terpenting yang harus dilakukan adalah melakukan gerakan transformatif, yang berawal dari penyadaran kepada masyarakat tentang hakikat dari sebuah pendidikan. Karena paradigma akan menentukan bagaimana orang itu melakukan sebuah tindakan. Inilah kiranya tindakan awal yang harus dilakukan untuk menjawab segala situasi-situasi yang penuh ketidakpastian. 

Jika paradigma yang berkembang di masyarakat tidak dilakukan upaya pergeseran kembali, maka akan tumbuh benalu-benalu selanjutnya dalam pendidikan kita. Meskipun kita tidak dapat semena-mena menuduh sepihak siapa pelaku dalang sebenarnya dibalik pendidikan kita yang bobrok, bisa saja ada faktor internal, seperti pengaruh gerakan sepilis yang merembes masuk kedunia pendidikan kita, atau faktor eksternal seperti fakta-fakta objektif diatas. Intinya kedua-duanya memberikan pengaruh dampak yang dinilai cukup signifikan, dan keduanya saling  mempengaruhi. Namun sejauh ini yang terpenting bukan tentang pengaruh gerakan sepilis, melainkan cara pandangan tentang pendidikan kita yang harus dilakukan transformative atau bahkan reformasi, karena paradigma menjadi bagian basis terpenting dalam menyoroti istilah pendidikan. Cara pandang keliru mengakibatkan kekeliruan dalam tataran implementasi nilai pendidikan, sehingga tidak heran akan terus bermunculan parasi-parasit di dunia pendidikan. 

Jika paradigma ini terus dipertahankan maka jangan salahkan kalau hari ini pendidikan lebih diarahkan untuk kerja di industry, makanya pertanyaan yang sering berseliweran ketika selesai masa kuliah itu “anda kerja dimana?” “diperusahaan mana anda diterima?” ada juga pertanyaan “setelah ini anda mau kemana?” pertanyaan terakhir ini meski tidak terlihat kata “kerja” nya tapi tersimpan dibalik maksud penanya. Bahkan tidak sedikit keberhasilan menduduki jabatan disatu perusahan bergengsi misalnya menjadi kriteria kesuksesan mahasiswa, jadi sukses tidaknya mahasiswa atau pelajar lainnya tergantung dimana anda bekerja.

Maka untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan serupa dan dengan alasan berharap output bagus sesuai harapan, akhirnya banyak diantara mereka mencari jurusan-jurusan yang dijamin mendapatkan pekerjaan yang layak, makanya biasanya kampus favorit adalah yang diduga mampu kuat mendatangkan pundi-pundi uang. Jadi kuliah sebatas untuk mencari uang dan mendapatkan pengakuan di strata sosial, sehingga dipandang manusia berkelas. Bukan lagi dioreintasikan untuk liya’budun. Aneh juga, anda punya uang untuk kuliah, dan anda kuliah untuk dapat pekerjaan. Pendidikan macam apa jika seperti ini? Ujung-ujungnya pendidikan kita melahirkan manusia yang selain biadab kemungkinan juga gila dan cinta mati kepada dunia. Makanya pelajaran selanjutnya setelah konsep monyet, ialah membahas tentang kebutuhan primer manusia yang sama sekalihanya mengurusi fisik, seperti tadi, wajar saja jika pembelajaran diarahkan untuk bagaimanasupaya bisa sekedar bekerja lalu cari makan demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Bersambung...... 

Komentar