Sutan Irawansyah
Mungkin semua orang akan sepakat bahwa gula rasanya manis, garam rasanya asin, obat rasanya pahit, sampe disini kita sepakat. Tapi apakah iya, gula selamanya akan manis? Garam selamanya akan asin? Obat rasanya akan pahit? Jawabannya belum tentu, rasanya mungkin belum tentu semua yang kita rasakan akan sesuai dengan yang di konsumsi. Barangkali suatu saat akan terbalik, garam mungkin satu saat bisa pahit, gula bisa hambar, obat bisa manis dan seterusnya. Lantas apa yang menyebabkan semua itu terjadi? Karena kehilangan ketenangan sehingga tidak mampu menikmatinya. Disinilah problemnya.
Ketika ketenangan telah hilang dalam diri kita, maka saatnya kita akan dikuasai oleh kekhawatiran, keraguan, ketakutan, hingga gelisah akibatnya isi pikiran anda tidak dapat terkontrol dengan baik. Sebab itu, makanya gula, garam hingga obat akan kehilangan inti kesejatian rasanya. Seperti itu juga hidup dan kehidupan, bila hidup dijalani dengan ketakutan, kekhawatiran dan keraguan maka yang terjadi kehidupan anda tidak akan berjalan dengan stabil, selalu dalam keputusasaan, hilang harapan, layaknya sudah mati sebelum mati.
Bahkan mungkin ironisnya la yamutu fiha wa la yahya mati tidak, hidup pun tidak. Betapa ironisnya bukan? Maka sebab itu Al Quran selalu menawarkan ketenangan bagi setiap manusia yang berambisi bahagia. Sedangkan ketenangan hanya diraih oleh mereka yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Andaikan saja jika anda melihat barang bergeletakan berantakan bukan pada tempatnya, pasti tangan ada gatal ingin bereskan, kenapa? Karena anda riskan lihatnya, dan anda tidak tenang. Jika tempat sejati bagi manusia adalah agama, maka tempat ketenangan mana lagi jika lain dalam agama?
Kunci kebahagiaan ada dalam ketenangan, kunci ketenangan ada dalam kemampuan untuk menempatkan sesuai posisinya dan fungsinya. Jika manusia menempatkan dirinya sesuai fitrahnya. Disitulah kenikmatan hidup akan segera dirasakan.
Mengapa ketika anda dapat menempatkan diri anda pada fitrah akan mendapatkan ketenangan? Karena anda mampu mengendalikan yang berada dalam diri anda sendiri. Mampu mengendalikan nafsu, emosi, amarah, hawa nafsu dst. Bukan dihilangkan, melainkan di kendalikan, bukan tidak mau, tapi Allah dan Rasul-Nya melarang mengikuti hawa nafsu yang mencelakakan. Bilamana berhasil di kendalikan jangan harap ada ruang sekecil pun untuk rasa cemas, takut, khawatir, hingga putus asa.
Rasanya banyak orang yang mampu meraih kesuksesan, kekayaan, hingga jabatan, tapi yang sulit hari ini adalah mendapatkan ketenangan bukan? Hingga bahkan sulit meraih kenikmatan. Maka kunci ketenangan dan kenikmatan terletak pada kemampuan untuk mengendalikan keinginannya, kekuatannya dan tahu batas dirinya. Anda yang mampu mengendalikan diri tentunya ketenangan dan kenikmatan dari setiap rentang proses perjalanan hidup akan dengan mudah anda lalui. Bahkan dari setiap prosesnya tidak mudah menyerah, sebab anda menikmati setiap detik yang anda lewati, jika gagal anda akan dengan mudah bangkit kembali.
Jadi nikmati saja setiap detik, menit, dan jam nya, hidup ini terlalu singkat jika tidak dinikmati, dan terlalu sia sia jika dilewati tanpa kenikmatan.
Wallahu 'alam

Betul sih, bahasa kerennya saat ini adalah mindfulness. Tapi tidak bisa dipungkiri, kadang hati cemas dengan segala yang sudah ditentukan Allah. Seolah-olah kita tidak yakin akan pertolongan-Nya. Well, betul sih sudah seharusnya kita belajar untuk percaya dan yakin atas ketetapan Allah. Percaya bahwa dunia ini adalah titipan, percaya dan yakin bahwa roda kehidupan pasti berputar sehingga apapun yang terjadi kita bisa menerimanya dengan sewajarnya. Proses. Semoga dimudahkan. Percaya bahwa ketentuanNya adalah yang terbaik sehingga diri gam terus menerus overthinking. Thanks for sharing. Tulisannya menginspirasi.
BalasHapusMasyaAllah syukron jazzakillah khairan katsira
Hapus