Belajar kepada Bergson


Sutan Irawansyah

Nama lengkapnya Henry Bergson. Ia merupakan seorang filusuf asal France yang hidup di akhir abad ke-19 dan awal awal abad ke-20. Lahir pada tahun 1859 dan meninggal pada 1941, tepat di usia 82 tahun. 

Henry Bergson terkenal dengan kontruk berpikir yang berbeda dengan para pendahulunya, dimana ketika itu umumnya filsuf menganut pemikiran posivistik yang menjadi rasionalitas sebagai titik keberangkatan dalam memulai proses mencari kebenaran, tapi Bergson berbeda. Dia menggunakan alam tradisi spiritual, yang kemudian populer dengan istilah intuisionisme. 

Jika di lihat latar belakangnya, keluarga bregson hidup dalam nuansa yang sangat religius, sehingga tidak heran mengapa aliran berpikir nya disebut intuisionisme, yaitu suatu aliran berpikir yang tidak sempat tersentuh oleh nalar rasional, atau akal itu sendiri. Jadi menurut bregson akal bukanlah satu satunya menemukan kebenaran, ada alat lain yang dipunyai oleh kita selain akal dan pancaindera. Inituisi kalo dalam relasi hubungan manusia itu disebut dengan nurani.

Tapi dalam tulisan kali ini tidak akan mengulas lebih jauh tentang alat yang ditawarkan bregson tentang gagasan intuisionisme nyaa. Tapi saya akan mengajak anda untuk merenungi salah satu hikmah dari Henry Bregson ini.

Henry pernah mengatakan seperti ini
To exist is to change, to change is to mature, to mature is to go on creating oneself endlessly
Jika di artikan, untuk eksis, perlu berubah. Untuk berubah, memerlukan kematangan. Untuk bisa matang, ciptakan diri anda terus menerus.
Coba anda perhatikan kalimat dari Henry diatas. Henry menawarkan untuk tetap eksis, bagaimana caranya eksis? Bagaimana agar tetap tampil? Maka kata Henry berubahlah. Disini kata kuncinya. Jadi dari Henry kita diajari bahwa setiap manusia diperlukan perubahan dalam setiap dirinya, agar terus berkembang dan mengarah ke arah yang lebih baik lagi. 

Jika manusia enggan untuk berubah, saya rasa anda sama saja dengan bunuh diri. Andaikan saja anda tetap dalam satu kondisi yang tak beranjak untuk berubah, maka anda akan terkurung dan terpuruk oleh situasi yang mengelilingi anda. Bahkan anda tidak akan menemukan diri anda yang sebenarnya. Karena bukankah paradigma perubahan yang menyebabkan Muhammad tahanus, lantas turun ayat pertama, lalu beliau menjadi Nabi? Kalau anda mandek, dan merasa selesai, maka anda tidak akan eksis lagi.

Seperti kalau anda melamar ke satu perusahaan, lantas anda merasa gagal dan enggan mencoba lamar ke perusahaan lain, maka anda selamanya tidak akan pernah bekerja dan mendapat uang. Jadi jangan berhenti dan jangan puas dengan satu kondisi yang sedang anda jalani, sebagus apapun itu, tapi berubahlah. 

Kalau kata Imam Syafi'i tuhh Bila aku mendapatkan satu ilmu baru, maka hal itu menunjukkan betapa bodohnya diriku. Maka bagi saya kata kunci untuk berubah adalah merasa dirinya memiliki kekurangan atau yang semacamnya. Seperti Imam Syafi'i tadi, beliau merasa dirinya tidak memiliki ilmu apa apa ketika setiap kali menambah ilmu nya, kalau imam syafi'i merasa pintar ketika dapat ilmu baru, saya rasa iman syafi'i tidak akan terus belajar, justru karena dirinya merasa bodoh yang menyebabkan beliau terus belajar. Makanya setiap kali ahli ilmu merasa pintar, maka saat itu dia menyatakan kebodohan dirinya. 

Demikian juga perubahan, sadari kekurangan sebagai momentum kebangkitan, jangan diam dengan satu kondisi, jika begitu, apa bedanya anda dengan mayat? Jadikan kekurangan sebagai bentuk evaluasi dan lakukan akselerasi untuk berubah. Bukanya karena kondisi jahiliyah yang menyebabkan Nabi untuk merubah? Dengan kebobrokan jahiliyah pada saat itu, Nabi hendak ingin merubah dzulumat ila an nur. Sebab itu, setiap kali anda bangun tidur, bayangkanlah diri anda lahir dengan sosok yang baru, yang berbeda dari yang kemarin. Berubah lah terus, matanglah dengan cara menciptakan diri anda terus menerus.

Kata kunci yang terakhir ada di kalimat oneself endlessly, yaitu ciptakan diri anda terus menerus. Kalau anda gagal 100 kali, ciptakan oleh diri anda sendiri untuk memastikan anda berhasil 101 kali, ciptakan terus menerus diri anda, dan jangan pernah berhenti, karena dengan anda ciptakan diri anda yang baru, saya yakin anda tidak pernah merasakan kegagalan dengan apa apa yang tengah anda hadapi. Seperti kalau anda putus cinta, maka ciptakan saja anda yang baru dengan menggeser kan persepsi anda tentang cinta, barangkali cinta tak selamanya memiliki, karena semuanya hanya milik Allah, termasuk istri atau pasangan anda.  Kalau anda tengah terpuruk dengan prestasi disekolah atau di kampus, yaa ciptakan diri anda yang baru dengan melakukan hal lain, karena prestasi tidak selamanya di institusi pendidikan, di masyarakat misalnya, karena di masyarakat jauh lebih manfaat, lakukan prestasi anda di masyarakat. Dst. 

Intinya ciptakan diri anda terus menerus, jangan berhenti dan teruslah berubah. Descartes pernah mengatakan seperti ini, you just keep pushing. You just keep pushing. I made every mistake that could be made. But I just keep pushing. Artinya, ayo terus maju. Kadang-kadang aku membuat kesalahan, tetapi aku terus maju. Kalau kita salah lantas berhenti, maka dunia ini tidak akan mengalami kemajuan. Justru karena kita keliru, kita jadi terpacu untuk mencari cara guna memperbaiki kekeliruan tersebut. Nahh disini sama juga, kalau gagal, kuncinya yaa berubah, untuk berubah ciptakan diri anda terus menerus. Barangkali jika depresi karena kegagalan akibatnya enggan untuk maju, maka anda sama sekali tidak akan sukses, bahkan tidak akan pernah sukses, kenapa? Karena anda tidak ingin menciptakan diri anda yang baru. Ciptakan diri anda terus menerus. Setiap harinya anda harus menjadi sosok yang baru versi diri anda sendiri, jangan mau terintervensi oleh orang lain. Menurut muhammad Iqbal orisinalitas adalah prasyarat untuk setiap perubahan yang mengarah pada kemajuan yang signifikan. Setiap kita memiliki sayap untuk terbang, maka terbanglah dengan bebas dengan sayap yang dipunggumu.

Berubahlah, ciptakan diri anda terus menerus.

Komentar