Sutan Irawansyah
Pernahkah kita berpikir dengan bertanya bahwa dunia hari ini yang kita huni dan seluruh instrumen dan unsur unsur didalamnya adalah tidak nyata, ilusi dan delusi? Yang pada ujungnya kita hanya sedang terlelap tidur dalam buaian mimpi yang palsu. Kalau memang dunia ini nyata benar adanya, maka apa jaminanya bahwa apa yang terlihat dan nampak itu sebenarnya nyata keberadaan nya sesuai yang kita lihat?
Descartes pernah menulis seperti ini, "Aku sering merasakan banyak hal yang sama persis seperti yang aku rasakan dalam mimpi. Tidak ada tanda pasti untuk membedakan mana mimpi mana sadar." Kurang lebih seperti itu. Lalu Descartes ajukan pertanyaan, "Apakah ada jaminan bahwa detik hari ini kita sedang tidak bermimpi?" Kita boleh boleh saja menyangkal kenyataan yang ada dengan meragukan hidup ini, seperti yang di ajukan Al Ghazali, bahwa jangan jangan hidup ini hanya mimpi? Jangan jangan setelah kita meninggal dan di bangkitkan, kita baru sadar bahwa ternyata dunia yang kita duduki hari ini hanya mimpi. Artinya kesadaran kita adalah nanti di alam barzakh, seperti tidak jauh bedanya ketika setelah bangun tidur.
Namun Descartes sebatas mempertanyakan jaminan eksistensi kenyataan yang kita hadapi, apakah mimpi atau nyata? tidak sedalam Al Ghazali. Ketika kita bermimpi kita tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau nyata? Seperti anda misalnya yang sedang membaca tulisan ini, apakah anda sedang bermimpi ataukah memang anda sedang berada di dunia nyata? Lalu apa jaminanya?
Bahkan lebih rumit dari itu, bisa saja dalam mimpi terjadi satu peristiwa atau kondisi yang sangat abstrak. Dimana bisa saja anda memimpikan diri anda sendiri yang sedang bermimpi didalam mimpi, atau ketika Anda bermimpi menjadi pahlawan itu sebenarnya anda bermimpi menjadi pahlawan atau pahlawan memimpikan anda.
Selain itu ketika Anda bermimpi juga merasakan seperti kenyataan yang pernah anda lewati dan alami, dan itu rumit sekali untuk membedakannya.
Andaikan kita adopsi dream argument dari Descartes, mungkin saja kita dapat beranggapan memang benar bahwa dunia yang kita huni hari ini sebenarnya tidaklah nyata, dan semua yang kita pegang, raba, lihat, itu adalah ilusi dan delusi. Ujung-ujungnya kita hanya sedang bermimpi.
Bukankah Al Quran mengatakan dunia dan seisinya hanya tipu daya? Yang namanya tipu daya pasti didalamnya ada trick supaya tertipu dan ditipu oleh dunia. Tidak jauh beda dengan mimpi bukan? Di dalam mimpi kita selalu dibuat tidak sadar karena terlalu lelap dalam buaian tipu daya mimpi. Yang benar jadi salah, dan yang salah jadi benar selalu terjadi dalam mimpi, dan itu tampak seperti nyata, kehidupan dunia rasanya tidak jauh berbeda, selalu ada ruang yang tampak sangat berbeda dari yang seharusnya, benar memanglah benar dan salah memanglah salah. Kita selalu dibuat tertipu.
Pada akhirnya bukankah kita hanya sedang bermimpi? Mimpi memiliki ruang dan waktu gerak yang sangat terbatas yang tak jauh beda layaknya dunia. Sementara dan fana. Selain itu mimpi tidak pernah mengalami kejadian yang sama, atau berulang. Pasti setiap peristiwa nya berbeda dan selalu baru, tidak lagi bisa diulang pada kisah dan peristiwa yang sudah lalu.
Dunia tempat kita sekali hidup, tidak pernah dan jangan berharap untuk kembali sedetik pun hanya untuk beramal.
Maka seseorang yang selalu berorientasi dan berharap pada dunia hakikatnya seperti layaknya seorang yang tidur dalam lelapan mimpi yang mengelus elus nya agar terus tertidur dalam ketidaksadaran.
Sebab itu kita akan tahu semua yang teralami adalah mimpi, tatkala kita bangun dengan sadar bahwa yang terjadi hanya ilusi. Maka kenyataan dunia ini adalah fana, ilusi, delusi itu disadari hanya dengan kesadaran dan keyakinan pada alam akhirat, bahwa hidup setelah dunia adalah kehidupan yang sebenarnya yang nyata, abadi dan bukan ilusi.
Mungkin sebenarnya kita sekarang sedang tertidur dan bermimpi, kita akan sadar setelah di akhirat nanti, bahwa hakikatnya yang telah kita lewati hanya fiktif, imajinasi dan fantasi.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar