Sutan Irawansyah
Thariq bin Ziyad seketika menyebrangi Benua Afrika menuju Andalusia di bakarnya kapal kapal yang sudah mengangkut pasukan pasukannya itu untuk menyebrang agar tidak kembali pulang. Lalu dia berkata : "sekarang lautan di belakangmu, musuh di hadapan mu. Nasibmu bergantung pada pedang mu,, makananmu ada, yaitu dinegeri yang akan kamu taklukan."
Lalu Umar bin Khattab mengatur bala tentara nya untuk menaklukkan kerajaan Persia dan Rum yang sepuluh kalo lebih besar ketimbang pasukan yang disiapkan oleh Umar. Pertanyaannya mengapa mereka berani untuk melakukan itu? Yang padahal secara matematis mungkin mereka akan kalah, bahkan langkah awal kekalahan. Tapi apakah iyaa islam mengajar kaumnya untuk senantiasa kalah melangkah tanpa ada perhitungan yang tepat?
Tapi yang kini kita bicarakan bukan soal menang atau kalah, melainkan soal kepercayaan diri.
Karena kepercayaan dirinya lahh, Thariq bin Ziyad berani untuk membakar kapal supaya pasukannya tidak mundur dan pulang, sebab Thariq menaruhkan pada pedang pasukannya sendiri, pedangnyalah yang akan menentukan, dengan kata lain dirinya sendiri, disini Thariq menanamkan kepercayaan pada diri sendiri, percaya pada kekuatan diri, percaya pada potensi diri, bahwa diri memiliki segudang kekuatan untuk mengalahkan musuh.
Karena kepercayaan diri lahh yang menyebabkan Umar berani menaklukkan pasukan Rum dan Persia, jika tanpa percaya pada diri sendiri mungkin tidak akan terjadi peperangan sama sekali, karena kecut dan tidak berani, karena mungkin lebih baik menelan kekalahan dengan gagah daripada mundur atau tidak maju sama sekali karena hilang percaya diri, Jika Umar dan Thariq tidak mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri, yang akan terjadi adalah "belum pergi sudah kembali" Belum juga naik sudah berpikir akan jatuh, melangkah saja belum. Pokok pangkal percaya diri sendiri ialah cuman dua, tauhid dan takdir.
Tauhid, berarti mengesakan Allah, meyakini bahwa alam ini ada yang mengatur dan mengurusnya. Dalam hal kepercayaan diri artinya menggantung kan segala sesuatu kepada kekuatan Allah SWT dan percaya tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah SWT.
Takdir, kita yakin dan percaya bahwa skenario hidup kita telah diatur dan di ukur oleh-Nya, tidak ada yang dapat menghalangi-Nya jika Allah sudah berkehendak sesuatu, kalau lah bahaya harus menimpa pada makhluk-Nya makan tidak ada yang dapat menghalangi-Nya. Dan iman kepada takdir ia tidak percaya akan ditimpa bahaya melainkan telah tertulis takdirnya oleh Allah. Artinya, percaya kepada diri sendiri adalah baik sangka kepada Allah, sebab itu ketika orang yang percaya diri sendiri ia tidak akan takut berenang di lautan hayat ini, sebab dia yakin tidak akan menimpa takdir buruk padanya melainkan atas izin-Nya.
Iman pada takdir menuntut kita untuk berusaha dan beri ikhtiar semampu mungkin untuk menjawab segala tanda tanya akan takdir yang ghaib, kemudian iman kepada takdir berarti percaya bahwa sebab itu berkaitan dengan musabab, jika ditanamkan biji tumbuhlah pohon, jika ingin kenyang perut makanlah, dst, dan iman kepada takdir yakin bahwa sebab sebab tadi tidak mungkin terjadi jika tanpa pertolongan Allah.
Takdir dan tauhid lahh yang menyuburkan kepercayaan pada diri sendiri. Ada sebuah ungkapan yang bagus :
"Kalau bukan karena pertolongan Allah kepada seorang pemuda, maka pertama kali yang akan menjatuhkannya ialah usaha dirinya sendiri."
"Kalau bukan Allah yang menjaga kita dari apa yang kita takuti, maka tidak ada pedang yang tajam dan tidak ada perisai yang kuat."
Hamka mengatakan dalam bukunya :
"Sebab itu berusahalah sendiri dan janganlah mengharapkan pertolongan orang lain. Di dalam agama berkali kali di terangkan, bila terjadi perhitungan di akhirat besok, tiap tiap manusia akan ditanyai buah usaha dan amalanya sendiri-sendiri. Tidak ada pokrol yang sanggup membela dan advocat yang melindungi. Tidak ada hubungan keturunan yang berpengaruh, sehingga Fatimah sendiri anak kandung Nabi SAW tatkala beliau masih hidup, sudah disuruh oleh Rasul menebus dirinya sendiri dari api neraka."
Karena terkadang banyak pekerjaan diserahkan kepada orang kemudian berharap selesai dan sempurna, namun ketika di tagih lagi ehh malah belum selesai juga, lalu kita ambil dan kerjakan sendiri ehh taunya selesai saat itu juga.
Wallahu 'alam bi shawaab
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar