Menangkap Api Semangat Menulis Hassan


Sutan Irawansyah

Hassan Bandung, begitu nama yang dijadikan judul bagi biografi Ahmad Hassan yang langsung ditulis oleh Dr. Syafiq Mughni. Tidak sampai situ, Pak Syafiq menggandengkan judul tersebut dengan kalimat "pemikir islam Radikal yang langsung mencerminkan sosok pribadi Ahmad Hassan sebagai mujtahid sekaligus mujahid yang cerdas dan cemerlang. 

Sosok "keradikalan" Hassan mungkin akan tercermin dari kesan Buya Hamka tentang Hassan, "keistimewaan beliau ialah kekuatan hujjah nya dan teguh nya mempertahankan pendirian yang beliau yakini benarnya. Kuat hatinya, kuat hujjah nya dan pahit kritiknya, kalau perlu terhadap kawannya sendiri dengan jujurnya." Atau menurut Tamar Djaja bahwa Hassan -menurut pengakuan ulama ulama besar dari tanah jawa- merupakan alim besar. 

Tentu sematan gelar, dari pemikir islam radikal sampai mujahid dan mujtahid terhadap sosok Hassan merupakan bagian hasil dari semangat api ta'lim Hassan, khusus nya dalam membaca dan menulis yang mencerminkan kedalaman dan kefaqihan Hassan dalam ragam disiplin ilmu syar'i, ilmu faraidh, lughoh, fiqih, hadits, ushul fiqh, dan ragam ilmu lainnya beliau kuasai. 

Api semangat membacanya diungkapkan oleh murid-murid nyaa, penurut pengakuan mereka bahwa Hassan jika dikunjungi rumahnya terlihat beliau kalau tidak sedang membaca berarti menulis. Artinya setiap waktunya Hassan selalu diisi kegiatan yang bermanfaat dan ziyadah ilmi, seperti ungkapan Hassan sendiri bahwa "memperhatikan masa (waktu) itu tiada lain hanya menjaga jangan sampai luput satu saat dengan tidak kita kerjakan kebaikan padanya, atau sekurang-kurangnya kita kerjakan kewajiban kita; dan hendaklah kita jaga jangan ada satu saat pun melalui kita dengan membawa amal kita yang jahat, begitu ungkap Hassan. Tradisi menjaga waktu untuk terus diisi oleh kegiatan ilmu atau ziyadah ilmi diteruskan oleh muridnya KH E Abdurrahman, beliau pernah berkata, "jangan ada hari tanpa tambahan ilmu."

Tentang aktifitas menulis Hassan bisa dibilang sangat produktif, seperti Buya Hamka juga yang terbilang produktif melahirkan karya karya buku. Kita bisa lihat saja, rentang dari tahun 1930-1958 kurang lebih Hassan telah melahirkan 79 judul tulisan dengan varian bidang disiplin ilmu yang beda beda, dari aqidah sampai Kristologi Hassan pun menulis. 79 judul tersebut ada yang ditulis di majalah persis (persatuan Islam) ada juga yang ditulis secara khusus dan diterbitkan, baik tentang perdebatan, perempuan, bantahan, kritikan sampai syair, hikmah dan pepatah/nasehat.

Tentang menulisnya saya teringat dan di buat kagum oleh beliau, betapa tidak kagum, beliau sering menulis hingga hal hal yang terkecil, Hassan pernah menulis tentang riwayat kakinya yang dipotong. Ini menurut pengakuan H.D.P Sati Alimin ketika bertamu untuk menjenguk Hassan yang kakinya telah dipotong. Saat itu Pak Sati Alimin bertanya, "bagaimana mulanya jadi begini Tuan Hassan? (A Hassan suka jika di panggil tuan)" Namun beliau tidak lekas menjawab, tapi yang Hassan lakukan ialah mengambil secarik kertas dari atas laci meja tulisnya dan di berikan kepada Pak Sati Alimin. Ternyata yang mendapatkan tulisan dari secarik kertas itu tidak hanya Pak Sati, tapi sembilan tamu lainnya pun ikut mendapatkan tulisan itu. Saat dibaca terlihat tulisan, "Ringkasan riwayat kaki saya di potong, tertanggal: Surabaya, 1 Oktober 1957." 

Tidak lama Hassan mengatakan, "ini kan lebih praktis, tuan bisa baca nanti di kereta api atau dirumah sambil tiduran dengan tenang. Tuan akan tau riwayat dipotong itu, dan saya tidak payah dan tidak buang waktu untuk menjawab pertanyaan serupa. Jadi kalaunsayanjawahbitu ke biru juga kita akan rugi waktu. Sekarang mari kita ngomong soal lain yang ada gunanya. "

Dari sini kita dapat ambil api semangat Hassan dalam produktivitas kepenulisan, dan dari beliau juga kita belajar, bahwa untuk menulis itu apa saja, meski kita terkadang menunggu ide dan gagasan untuk menulis, padahal dalam diri kita itu yaa berisikan gagasan dan ide itu. Kita menulis status, luapan kekesalan pada sangat kekasih, kritik lewat medsos, itu semua menunjukan menulis menulis juga. Tapi essensinya bahwa kita menulis apapun itu harus bernilai manfaat dan maslahat bagi umat. Hassan juga memberi pelajaran penting bahwa menulis adalah kerja yang tak akan pernah selesai, selama kita belum diberhentikan maka menulislah dengan lepas dan merdeka. 

Memang Hassan kini telah tiada di bumi kita, tapi usia kebaikan dan kebermanfaatanya akan terus membumi dan abadi bagi generasi selanjutnya. Maka menulislah, karena dengan memulai menulis kita hakikatnya sedang memperpanjang usia kebaikan kita. 

Salam literasi, salam abadi. Tangkap api semangat menulis Hassan.


Wallahu 'alam bi shawwab. 

Komentar