Belum Ada Judul

Sutan Irawansyah

"Untuk mencapai angka sepuluh tidak selamanya lima tambah lima, bisa saja dengan sembilan tambah satu misalnya..." Kira kira begitu ujar seorang teman beberapa minggu silam kebelakang di sela sela sesi kajian. Jika di renungkan kata kata ini singkat namun sarat dengan makna, terlihat sederhana namun di balik kata katanyya memiliki pelita yang bermakna. 

Memang begitu adanya, bahwa untuk menghasilkan angka sepuluh tidak selamnya harus 5+5 bisa dengan 6+4 atau mungkin 7+3 dan seterusnya. Dari sini dapat kita ambil bahwa kebanyakan orang ada saja yang memiliki tujuan yang sama, jika ditanya ingin sukses kiranya serempak orang sepakat mengatakan "iyaa aku ingin sukses" Demikian pula jika ditanya ingin kaya kah anda? Dengan pasti dan optimis jawabnya "iyaa aku ingin kaya" Atau jika ditanya "Kamu ingin bahagia?" Dengan semangat semua orang menjawab "iyaa aku ingin bahagia" Artinya semua orang ada yang memiliki tujuan arah yang sama namun ingat semua orang dilahirkan dengan potensi, bakat dan bawaan karakter yang berbeda. 

Saya teringat kembali ucapan John Masson yang menulis bahwa kita itu dilahirkan dengan original, sayangnya kita selalu mati dengan meniru orang lain, kira-kira begitulah ucapanya. Kita dilahirkan dengan selengkap anugerah Allah berupa bakat dan potensi, tapi sayangnya mengapa kita selalu ingin sama dan juga mungkin disamakan yang padahal kita memiliki keunikan yang tidak dimiliki orang lain selain diri kita, dan sayangnya juga kita selalu beranggapan dan terjebak bahwa untuk angka sepuluh harus lima tambah lima, yang akhirnya kita memilih jalan yang sama untuk sampai ke tujuan yang sama. Padahal tidak begitu cara kerjanya. 

Justru ketika kita berjalan di cara yang sama hakikatnya kita telah menipu dan memanipulasi kan diri kita, mengapa? Bukankah diri kita memiliki keberbedaan dengan yang lain? Bahkan keberbedaan dalam diri kita itu adalah sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya bahwa kita memiliki potensi dan bakat yang mencerminkan identitas kita yang sebenarnya? Tapi anehnya kita sekarang enggan untuk berdiri dan berjalan sesuai bawaan dan keaslian kita disebabkan kita ditipu atau mungkin saja tertipu oleh silauan kesuksesan orang, ketika melihat seorang sukses kita dengan gegabah langsung menyimpulkan bahwa aku harus berusaha seperti itu mengikuti jejak dan karirnya, hah? Ketika kaya harus ber-uang semua mendadak ingin kaya dengan cara yang sama, terkenal itu harus menjadi artis akhirnya mendadak booming artis dadakan. Bukan, bukan begitu. Tapi yang harus kita lakukan adalah gali potensimu dan raihlah kesuksesan mu sendiri. Kesuksesan dan kebahagiaan bukan milik si lima tambah lima, tapi milik si yang berusaha untuk sampai angka sepuluh, entah itu dengan 6+4 atau 5x2 dst. 

Dalam rumah tangga (meski saya belum berumah tangga) kiranya begitu mekanisme suami istri berjalan dalam membina rumah tangganya, yaitu berperan sesuai fungsinya masing masing dalam upaya kerja sama membangun rumah tangga untuk tujuan bahagia dunia dan akhirat, suami dengan fungsi dan kodratnya, istri pun dengan fungsi dan kodratnya, kedua-duanya tidak keluar dari posisi dan fungsinya masing masing. Artinya dari sini bahwa benar untuk angka sepuluh tidak melulu lima tambah lima. Bayangkan saja jika suami dan istri harus disamakan? Yang terjadi bukan harmonis dan romantis tapi akan miris dan kritis. Sebab itu Hamka pernah bilang begini, "rumah tangga yang damai dan tentram adalah gabungan dari tegapnya laki laki dan halus nya perasaan perempuan" disini terlihat saling melengkapi dan melindungi dengan peran dan fungsinya masing masing. Jadi untuk sampai tujuan yang sama tidak harus dengan cara yang sama juga, tapi justru dengan beda itulah bisa dapat sampai ke arah yang kita tuju, banyak jalan dan banyak cara untuk sampai ke negeri Deli. 


Wallahu a'lam bi shawwab.

(Judulnya saya tidak tahu, karena saya asal nulis saja, boleh di komen lahh rekomendasi judulnya, makasih sebelumnya wkwkwk, salam literasi) 

Komentar