Mengenal sosok A Hassan : Guru Besar Persatuan Islam (bag terakhir)

 

Segudang Karya A Hassan

Seorang A Hassan merupakan seorang penulis yang produktif bahkan menurut pengakuan muridnya M Natsir, beliau berdakwah dengan segala jalan yang ditempuhnya. Dengan perkataan, pidato atau ceramah sebagai kebiasaan kaum mubaligh, dan lebih banyak dengan tulisan.

Terkait tulisanya sebagai lanah atau jalan dakwah menyebarkan faham Al Quran dan Sunnah, A Hassan, sekurang-kurangnya terdapat 81 karya tulis berupa buku dari yang tebal hingga tipis dengan beragam tema yang di kemukakan, dari mulai aqidah, ibadah, muamalah, politik sampai perosalan kekristenan beliau menulisnya, diantara karya tulis di bidang aqidah seperti ; Risalah Ahmadiyah (1932); An Nubuwwah (1941); Muhammad Rasul? (1951); Apa Dia Islam? (1951); At Tauhid (1959), kemudian di bidang kristologi : Dosa-dosa Yesus (1930); Ketuhanan Yesus menurut Bibel (1939); Benarkah Isa disalib (1958), di bidang politik ; Kedaulatan dalam Islam (1940); Islam dan Kebangsaan (1941); Merebut kekuasaan (1946); A.B.C Politik (1947) di bidang fiqh, ushul fiqh dan ibadah : Pengajaran Shalat (1930); Risalah Jum’ah (1931); Soal Jawab (1931); Talqin (1931); Kitab Riba (1932), di bidang akhlaq : Kesopanan Tinggi (1939); Kesopanan Islam (1939); Hai cucuku, Hai Puteraku dan Hai Puteriku di terbitkan di tahun yang sama pada tahun 1948; Tashauf (1951). Dan masih banyak lagi karya tulis beliau dengan ragam bidang fan keilmuan yang berbeda-beda dari sejarah, tafsir, hadits, sastra dll beliau sempat menulis.


Pribadi A Hassan di mata tokoh-tokoh 

Pendirian yang tegas sebagai pemegang teguh dasar Al Quran dan Sunnah, sangat hati-hati dalam Agama, ahli debat yang tidak terkalahkan dan kritikus tajam merupakan sikap yang terlihat dalam pribadi A Hassan, sehingga tidak heran sosok yang memiliki falsafah hidup bahwa tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada hidup dalam batas-batas agama dan berbuat baik kebaikan kepada siapapun sekedar bisa dengan dengan penuh keikhlasan ini dikenal dan disegani dimata para tokoh-tokoh Muslim samapai Non-muslim baik nasional maupun local, diantaranya; 

Tamar Djaja mengatakan : 

“A Hassan singa dalam tulisan, tapi domba dalam pergaulan”  

Roebai Wijaya: 

“Bagi siapa yang memperhatikan kuliah Bung Karno tentang Negara nasional dan cita-cita Islam pada 7 Mei 1953 di Aula Perguruan Tinggi RI Jakarta, tentu akan mengetahui bahwa pemuka Islam yang pertama kali menganjurkan cita-cita Islam dalam bentuk ketatanegaraan Indonesia secara aktif menantang dasar Nasionalisme adalah A Hassan”

Buya Hamka :

“Dan orang yang ketiga yang menjadi penyiar faham Abduh di Jawa adalah Syaikh Ahmad Hassan. Dan keistimewaan beliau ialah kekuatan hujjahnya dan teguhnya mempertahankan pendirian yang beliau yakini benarnya. Kuat hatinya, kuat hujjahnya dan pahit kritiknya, kalau perlu terhadap kawanya sendiri dengan jujurnya.”

Prof Dr. G.P. Pijper : 

“A Hassan adalah seorang ulama yang kenamaan. Saya beruntung masih memiliki banyak karya-karyanya yang jumlahnya banyak sekali. Alangkah banyaknya ilmu yang dipelajari beliau”

Zainal Abidin Ahmad :

“Saya benar-benar tidak menyangka, A Hassan yang demikian keras dalam tulisan-tulisanya, kiranya seorang tuan rumah penerima tamu yang paling empuk dan baik”

Syaikh Ahmad Soorkati :

“Sebagai seorang yang terpelajar, mempunyai tingkatan tauhid yang tinggi dan seorang pembela agama Allah yag selalu berjuang menghindarkan umat Islam dari kesesatan”

Tidak ketinggalan juga sosok muridnya yang populer sebagai maestro dakwah, adalah Mohammad Natsir yang mengatakan tentang pribadi gurunya :

“Beliau adalah ulama besar, gudang ilmu pengetahuan, dan sumber kekuatan batin dalam menegakkan keadilan dan keimanan”

Pandangan para tokoh ini mencerminkan watak dan kepribadian A Hassan yang sangat layak untuk di jadikan uswah dan tempat bercermin bagi kaum Muslim khususnya dan generasi selanjutnya.

Demikianlah riwayat hidup Ahmad Hassan, tentunya ini merupakan kepingan-kepingan dari hayat sosok A Hassan yang tentunya masih banyak lagi peristiwa dalam sejarah yang belum terkoreh yang pernah dilakoninya baik di lingkungan keluarga, masyarakat, murid-muridnya sampai di organisasi Persis yang merupakan wadah jihad fisabilillah bagi beliau. 


Referensi :

Syafiq Mughni, Hassan Bandung : Pemikir Islam Radikal, (PT Bina Ilmu : Surabaya, 1994).

Dadan Wildan, Yang Dai Yang Politikus : Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis, (Rosdakarya : Bandung, 1997).

Tiar Anwar Bachtiar, Jas Mewah : Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah, (Pro-U Media : Yogyakarta, 2018).

Tafsir Qanun Asasi Persatuan Islam (PP Persis : Bandung, 1967).

Afif Azhari dkk, Muhammad Abduh dan pengaruhnya di Indonesia (Surabaya : Al Ikhlas, 1996).

Nino yudiar, Percik Pemikiran A Hassan : Goereo Persatoean Islam (Bandung : Insan Rabbani, tt). 

Tiar Anwar Bachtiar dkk, Persis dan Politik : Sejarah Pemikiran dan Aksi Politik Persis Tahun 1923-1997 (Pembela Islam Media, 2012).


Komentar