Sutan Irawansyah
Akhir-akhir ini cuaca begitu dingin seperti tidak biasanya, yang terkadang panas dan gersang, namun berbeda dengan hari-hari ini, awan tampak mendung dari ketinggian hingga hitam dan bergerumbul sampai-sampai cahaya matahari tidak menembus gumpalan awan, oleh sebab itu tidak dirasakan sedikit sentuhan kehangatan dari cahaya matahari, yang dirasakan kini hanya suhu kedinginan dengan menembus angka kurang lebih 23 derajat celcius dengan kecepatan angin 10 km/jam yang menyentuh kulit (info tersebut terakhir dilihat hari kamis, 6 Juli 2021). Suhu yang dingin ini diakibatkan curah potensi hujan yang terus mengguyur.
Di lansir dalam laman Liputan.com wilayah kota Bandung belakangan hari ini diguyur hujan sehingga kondisi cuaca akan terasa sedikit dingin, meskipun menurut penuturan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika bulan Mei-Juni diprediksi musim kemarau namun disertai adanya pembentukan awan-awan hujan. Adapun suhu dalam kurun waktu 5 hari terakhir di wilayah kota Bandung adalah 18,2 derajat celcius. Namun suhu dengan angka segitu relative normal. Terlebih belakangan hari ini kota Bandung terus menerus diguyur hujan akibatnya tidak sedikit wilayah terkena dampak banjir.
Ternyata curah hujan juga melanda di sejumlah wilayah di Indonesia, sehingga tidak sedikit yang merasakan kedinginan disebabkan curah hujan yang tinggi. Namun fenomena-fenomena tersebut hanya sekedar prediksi yang belum tentu terjadi, hanya semata perhitungan manusia terhadap alam dan sekitarnya, yang pasti semua ada pada kehendak Allah Swt, entah itu hujan, becana, banjir dll Allah Swt berfirman :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ٌ
“Tidak ada satu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah” (At-Thagabun [64] : 11).
Dalam menyikapi hujan di akhir-akhir ini banyak orang yang menyikapinya dari sudut pandang lain tanpa memperhatikan sisi hikmah di balik fenomena, atau sekedar fokus dari sisi lahiriahnya saja yang terkadang cenderung berpandangan dan beranggapan negatif. Tidak sedikit orang-orang beranggapan datangnya hujan akan berdampak banjir, mengakibatkan terhambatnya aktivitas sehari-hari, kedinginan sampai musibah dll, namun disisi lain ketika tidak ada hujan mereka mengeluh kepanasan, gerah, kehausan, mengakibatkan kebakaran bahkan sampai menyalahkan cuacanya. Padahal musibah-musibah itu turun di akibatkan ulah-ulah tangan manusia yang fasad (rusak). Semua ini hanya anggapan yang lahir dari ketidakmampuan akal manusia dalam mematik dan merenungi hikmah di balik fenomena melalui perenungan ayat-ayat Al Quran dan Hadits-hadits Nabi.
Sebab itu kita sebagai muslim yang taat sudah seharusnya merenungi ayat-ayat Al Quran dan Hadits sebagai upaya mematik hikmah dibalik tabir fenomena hujan yang kian mengguyur ke permukaan.
Sebelum masuk pada pengungkapan hikmah dari hujan itu sendiri, alangkah baiknya kita telisik terlebih dahulu berkanaan hujan dalam Al Quran. Hujan dalam bahasa Arab berarti المَطَرُ yang merupakan isim mashdar dari مطر- يمطُر maknanya ; turun hujanya atau menurunkan hujan, dalam Al Quran kata مطر dan derivasinya diungkapkan sekurang-kurangnya berjumlah 15 kali di surat yang berbeda, seperti dalam surat Al A’raf [7] : 84, Hud [11] : 82, Al Hijr [15] : 74, Asy Syu’ara [26] : 173, An Naml [27] : 58 dan sepuluh surat lainya.
Al Raghib Al Ashfahani mengungkapkan makna المَطَرُ yakni : “Maknanya adalah air hujan, yaitu air yang ditumpahkan”. Kemudian beliau kembali menjelaskan ; “bahwa kata مطر diungkapkan bagi kebaikan sedangkan أمطر digunakan sebagai siksa, Allah berfirman :
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ
“Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan” (Asy Syu’ara [26] : 173).
Hikmah hujan diantaranya ;
Yang pertama, dalam suatu riwayat hadits secara tersirat disebutkan bahwa hujan merupakan rahmat dari Allah Swt :
قَالَ أَنَسٌ أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ « لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى ».
“Anas –Radiyallauanhu- telah berkata : Kami bersama Rasulullah Saw pernah kehujanan, lantas Rasulullah Saw menyingkap pakaiannya hingga terkena air hujan. Maka kami bertanya kepada beliau : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan itu?” beliau menjawab : “Dikarenakan hujan baru saja diturunkan Rabb-Nya". )HR. Muslim).
Imam Nawawi dalam kitab syarah Shahih Muslim menjelaskan :
ومعناه أَنَّ الْمَطَرَ رَحْمَةٌ وَهِيَ قَرِيبَةُ الْعَهْدِ بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى لَهَا فَيُتَبَرَّكُ بِهَا
“Maknanya bahwasanya hujan merupakan rahmat, yaitu rahmat yang baru saja Allah ciptakan. Maka Rasulullah Saw bertabarruk (mengambil berkah) dari air hujan tersebut” (Syarah Shahih Muslim 6/195).
Yang kedua, Allah menyebutkan bahwa hujan merupakan rizki yang diturunkan bagi kesuburan bumi, sehingga denganya keluar dan tumbuh buah-buahan, sayur-sayuran dll, Allah berfirman :
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal Allah mengetahui” (Al Baqarah [2] : 22)
Ayat ini menjelaskan akan manfaat turunya hujan yang Allah turunkan, yakni menyuburkan tanah yang gersang sehingga denganya tumbuh buah-buahan yang segar bagi penduduk bumi dan itu adalah rizki bagi mereka. Terkait ayat ini Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menerangkan : (yang dimaksud) langit yaitu setiap yang tinggi dan berada diatas maka dia itu langit, dan ulama-ulama tafsir mengatakan : yang dimaksud dengan langit disini yaitu As Shihaab (awan mendung yang merupakan tanda akan turunya hujan), maka allah menurunkan air. Selanjutnya berkenaan ayat فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ beliau menafsirkan : “seperti biji-bijian, buah-buahan, pohon kurma, tanaman dan yang semacamnya”, dan ayat رِزْقًا لَكُمْ dimaknai oleh beliau : “dengan (hujan) mereka mendapatkan rizki, makanan, nafkah juga memakan buah-buahan”.
Maka datangnya hujan diantara sebab datangnya rizki, denganya keluar ragam macam tumbuhan hingga buah-buahan dan menyuburkan tanah sehingga tidak terjadi kegersangan dan kelaparan, sebab itu kedatangan hujan mesti disikapi dengan rasa syukur kepada Allah atas pemberian rizki-Nya, bukan dengan celaan terhadap hujan sebab ia (hujan) mau tidak mau telah mendatangkan manfaat bagi umat manusia.
Yang ketiga, dalam surat An Nahl ayat 10 secara eksplisit menyebutkan hujan sebagai sumber yang sekaligus bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia, Allah berfirman :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagianya menjadi minuman dan sebagianya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu” (An-Nahl [16] : 10).
Dalam ayat ini ada tiga manfaat dari rizki ; menjadi minuman, menumbuhkan tanaman, dan bagi gembalaan ternak. Dalam salah satu riset penelitian bahwa manusia 80% membutuhkan air ketimbang makanan dan air itu sendiri berpengaruh bagi kesehatan tubuh kita, dan bahkan manusia dapat bertahan hidup dengan air tanpa makan sekalipun. Ini menunjukan akan kebutuhan kita kepada air yang sangat besar. Kemudian akan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan yang banyak juga berfmanfaat, terakhir hujan bermanfaat bagi peliharaan-peliharaan, seperti unta yang membutuhkan pasokan air yang sangat banyak dll atau berupa gembalaan binatang ternak, yakni peternak yang mengatur gembalaanya untuk makan di ladang rumput.
Yang keempat, di lain ayat lebih jelas lagi bahwa air merupakan sumber air untuk di minum umat manusia, Allah berifrman :
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum”(Al Waqiah [56] : 68)
As Sa’di menerangkan bahwa Allah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka berupa air yang tawar yang mereka dapat meminumnya, dan sekiranya jika bukan Allah yang memudahkannya dan menggampangkannya, dan Allah menunjukan jalan kepadanya, dan Allah yang menurunkannya dari (awan yang) mendung, yakni mendung dan hujan.
Yang kelima, hujan dapat menumbuhkan banyak ragam tumbuhan, seperti korma, zaitun dll, Allah berfirman :
يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (An Nahl [16] : 11)
Bahwa hujan yang Allah turunkan akan mengeluarkan dari kedalaman tanah berupa tumbuh-tumbuhan yang akan memberikan manfaat bagi umat manusia, dan mereka dapat memakannya. Menurut Ibn Katsir bahwa Allah akan mengeluarkan dari tanah dengan air yang satu, yang berbeda-beda macam nya (yang keluar) makananya, rasanya, baunya dan yang semacamnya.
Yang keenam, dampak dari turunya air hujan akan menumbuhkan kebun-kebun sekaligus karenanya kebun-kebun menjadi indah pemandangannya, Allah berfirman :
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا
“Bukankah Allah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonya….”(An Naml [27] : 60)
Seperti di pedesaan apabila telah turun hujan suasana seakan-akan baru kembali disertai kesejukan dan panorama keindahan yang baik dan bentuk yang cantik di berikan-Nya pada umat manusia, menjadikanya mereka tenang, nyaman dan damai.
Yang ketujuh, karena umat manusia membutuhkan terhadap air dengan kadar yang cukup besar, sebab itu kedatangan hujan membawa kegembiraan bagi mereka, karena hujan telah membawa kebutuhan-kebutuhannya, firman-Nya :
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angina itu menggerakkan awan dan Allah membentangkanya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikanya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkanya kepada hamba-hamba-Nya yang dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira” (Ar Rum [30] : 48)
Yang kedelapan, bahwa Allah menurunkan hujan merupakan bagian dari keberkahan-Nya kepada umat manusia, firman-Nya :
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Dan kami turunkan dari lagit air yang banyak manfaatnya lalu kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (Qaf [50] : 9).
Imam Ath Thobari menyebutkan yakni air hujan yang berkah, yang kemudian kami tumbuhkan padanya buah-buahan dan pepohonan. Barakah asal katanya adalah unta, meski digunakan dalam istilah lain. Kalimat برك البعير diartikan dengan unta yang mendekam. Kemudian kata tersebut diibaratkan untuk memaknai sesuatu yang diharuskan. Tempat penampungan air disebut البِركة yaitu kolam atau bak, sedangkan البَركة disini maknanya ditetapkanya kebaikan oleh Allah dalam sesuatu. Firman-Nya :
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Niscaya akan kami bukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi” (Al A’raf [7] : 96)
Hal tersebut dinamakan baroka karena didalamnya ditetapkan kebaikan seperti ditetapkanya air dalam sebuah kolam.
Adapun yang dimaksud dengan keberkahan air dalam ayat diatas (Qaf ; 9) menurut Al Raghib yakni :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnyaAllah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air dibumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya” (Az Zumar [39] : 21).
Wallahu 'alam bi shawwab.
Referensi :
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya : Pustaka Progresif, 1997).
Muhammad Fuad Abdul Baqi’, Mu’jam Mufahros Al Fadz Al Quran, (Beirut : Dar Al Fikr, 1981).
Al Raghib Al Ashfahani, Mu’jam Mufradat Al Fadz Al Quran, (Beirut : Dar Al Kutub Al Ilmiyyah, 2013).
Imam An Nawawi, Manhaj Syarah Shahih Muslim ibn hajaj, (Beirut, Dar Al Ihya Turats al Araby,tt).
Shahih Muslim kitab Shalat Istisqa’ bab Ad Du’a fii al Isitsqa’ no. 2120.
Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Taisir Al Karim Ar Rahman fii Tafsir Kalaam Al Manan, (Damaskus-Suriah : Ma’usasah Ar Risalah Naashiruna, 2020).
Ibn Katsir, Tafsir Al Quran Al Adzim jilid IV, (Dar Taybah li Nashir wa At Tawzi’, 1999).
Abu Ja’far Ath Thobari, Jami’ Al Bayan fi ta’wil Al Qurani jilid XXII, (Mau’sasah Ar Risalah, 2000).

Komentar
Posting Komentar