Mengenal sosok A Hassan : Guru Besar Persatuan Islam (bag I)



Sutan Irawansyah

Mendengar nama Ahmad Hassan, di bumi Nusantara sudah tidak asing lagi khususnya bagi kalangan akademis terlebih lagi para ulama, kepopuleran A Hassan sangatlah luas, yang bukan hanya di Indonesia bahkan namanya terdengar menembus semenanjung Malaysia dan Singapura sebagai sosok ulama militan. A Hassan dikenal sebagai Mujtahid, Mujahid, Ulama juga sosok kaliber besar dengan kegigihanya mendakwahkan Al Quran dan Sunnah di bumi pertiwi, sehingga kepeloporan dan kontribusi bagi Islam di Indonesia tidaklah sedikit. Beliau juga dikenal dengan keluasan dan kedalaman ilmu yang dikuasainya dan keproduktifkan nya dalam dunia tulis menulis sehingga melahirkan banyak karya dari tanganya.  

Beliau lantang melawan kebathilan dengan memposisikanya di garda terdepan, apalagi ketika Islam direndahkan, maka A Hassan segera tampil kedepan untuk menjawab. Terlihat bagaimana A Hassan melawannya dengan tulisan-tulisannya yang tajam dan menyudut, atau berdebat dengan salah seorang atheis, juga ajakan debat terbuka kepada pastor Tan Berge yang pada masanya melakukan penghinaan terhadap Al Quran namun ditolaknya. Ini bukti keberanian A Hassan menyatakan kebenaran yang tentu berlandaskan Al Quran dan As Sunnah. Yang patut di perhatikan dan jadikan teladan adalah keteguhan, kekosisten dan konsekwenan beliau dalam pendirian atau prinsip nya yang tidak mengenal kompromi, seperti secara implisit di ungkapkan oleh Buya Hamka : “Dan keistimewaan beliau ialah kekuatan hujjahnya dan teguhnya mempertahankan pendirian yang beliau yakini benarnya. ”

Banyak ulama terkesima dan terkagum-kagum akan pemikiran dan hayat perjuangan beliau, termasuk Mohammad Natsir yang sekaligus muridnya, mengungkapkan sosok A Hassan : “Beliau adalah ulama besar, gudang ilmu pengetahuan, dan sumber kekuatan batin dalam menegakkan keadilan dan keimanan”


Hayat A Hassan

Ahmad Hassan memiliki nama lengkap Hassan Bin Ahmad, beliau merupakan campuran Indonesia dan India, Ahmad Hassan lahir 31 Desember 1887 di Singapura, ayahnya berasal dari India bernama Ahmad juga bernama Sinna Vappu Maricar dan ibunya bernama Muznah yang berasal dari Palekat Madras namun lahir di Surabaya. Ahmad adalah seorang penulis yang cukup ahli dalam bidang agama Islam dan kesusasteraan Tamil. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad berdagang di kota tersebut. 

Tahun 1894 kurang lebih ketika berumur 7 tahun beliau mulai menjejaki karir pendidikanya dengan belajar Al Quran dan agama, masa kecil A Hassan dilewatinya di Singapura, setelah itu Hassan masuk sekolah Melayu dengan mempelajari bahasa Arab, Melayu, Tamil dan Inggris, namun sekolahnya tidak ada yang pernah ia selesaikan sama seperti kebanyakan tokoh semisal Hamka, Rahmah El Yunusiyyah, Kartini dll. Di umur 12 tahun Hassan sudah bekerja di milik iparnya, Sulaiman, sembari menyempatkan belajar privat bahasa Arab dengan maksud supaya dapat membuka gerbang kepada pendalaman Islam secara otodidak, ia belajar kepada H Ahmad di Bukittiung dan Muhammad Thaib seorang guru terkenal di Minto road.

Kepada Muhammad Thaib lah Hassan belajar Ilmu Nahwu dan Shorof, A Hassan yang keras kemauanya ia tidak merasa keberatan akan persyaratan yang ditentukan untuknya, persyaratan tersebut : harus datang pagi-pagi sebelum sholat shubuh dan tidak boleh pergi menaiki kendaraan ke tempat gurunya. Setelah empat bulan lamanya belajar kepada Muhammad Thaib namun ia merasakan tidak mendapatkan kemajuan. Menurut A Hassan karena apa yang dipelajarinya hanya dihapal dan dikerjakan yang tidak dapat dimengerti, dampaknya semangat belajarnya menurun. Maka ia beralih mempelajari bahasa Arab pada Said Abdullah Al Musawi ketika Muhammad Thaib hendak pergi menunaikan ibadah Haji, Hassan belajar kepada Said menghabiskan tiga tahun lamanya, disamping itu pula ia belajar kepada pamanaya, Abdul lathief, kemudian kepada Syaikh Hassan dan Syaikh Ibrahim, dua gurunya selain Abdul Lathief merupakan ulama yang terkenal di Malabar dan India. Beliau mempelajari dan memperdalam Islam sekurang-kurangnya sampai tahun 1910 ketika beliau berumur 23 tahun.

Di tahun 1910-1913 A Hassan kecil bekerja sebagai tukang sekaligus membantu ayahnya dalam dunia percetakan. Menginjak remaja A Hassan bekerja jadi pelayan toko, dagang permata, minyak wangi, es vulkanisir ban mobil, dan bekerja di pelayanan haji sebagai kerani di Jeddah Pilgrim’s Office. Disisi itu pula A Hassan menjadi guru tidak tetap di salah satu Madrasah orang-orang India di Arab Street juga di Baghdad street dan Geylang. Kemudian menjadi guru tetap setelah menggantikan Fadlullah Suhaimi di Madrasah Assegaf, Madrasah bertingat Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah.  Antara tahun 1912-1913 A Hassan menjadi anggota redaksi majalah Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapura Press dibawah pimpinan Inche Hamid dan Sa’adullah Khan dengan mengasuh rubrik etika.

Tahun 1921 A Hassan akan pergi ke Surabaya dengan maksud mengurus toko tekstil milik paman juga sekaligus gurunya, Abdul Latief. Sebelum berangkat menuju Surabaya, Abdul Latief sempat menitip pesan kepada A Hassan supaya saat di Surabaya nanti tidak bergaul dengan seorang yang bernama Faqih Hasyim yang di klaim sesat karena berpaham Wahabi. Karena di Surabaya pada saat itu sedang panas-panasnya gesekan antara Kaum Tua dan  Kaum Muda. Semasa di Surabaya A Hassan menginap disalah satu rumah milik pedagang dan Syekh Jamaah haji, Abdullah Hakim. Saat berkunjung ke salah seorang tokoh NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, A Hassan mendengar lebih banyak pertikaiaan Kaum muda dan Kaum Tua, pertemuan A Hassan dengan beliau malah membuat kesimpulan beliau bahwa kaum muda lah yang benar, hal ini didukung oleh penelitian kaum muda terhadap Al Quran dan Sunnah yang tidak mendukung praktik-praktik keagamaan kaum Tua.

Sebab itu niat semata-mata berdagang tidak dipertahankan oleh A Hassan, malah beliau berhubungan secara langsung dan sangat rapat pergaulanya dengan Faqih Hasyim dan kaum muda lainya, saking dekatnya sepeninggalan Faqih Hasyim, salah satu anaknya, Noer, dipungut oleh A Hassan. 

Menurut Pak Syafiq Mughni dalam bukunya : Hassan Bandung : Pemikir Islam Radikal menyebutkan bahwa Hassan menikah dengan seorang peranakan Tamil-Melayu dari keluarga pedagang dan pemegang agama, yakni bernama Maryam, A Hassan menikah tahun 1911 di Singapura. Dari Rahim Maryam lahir 7 anak terdiri dari laki-laki dan perempuan ; Abdul Qadir, Jamilah, Abdul Hakim, Zulaikha, Ahmad, M Sa’id, dan terakhir Manshur. 


Bersambung..... 

Komentar