Karaktermu Mencerminkan Takdirmu

Sutan Irawansyah

Karakter seseorang adalah takdirnya. Maksudnya bukan karaktermu itu takdir, melainkan seperti apa karaktermu itu, maka seperti itulah yang akan menentukan takdirmu, dengan kata lain seperti apa karaktermu maka takdir mu itu akan mengikuti.

Jadi kesengsaraan, kebahagiaan, atau kesedihan di tentukan oleh karaktermu. Jadi jika kamu ingin kesengsaraan maka berbuat buruk lah, atau sebaliknya ingin sebuah kebahagiaan maka berbuat baik lah.

Sebab itu jika kamu jahat, jika kamu curang maka takdirmu nanti tidak akan jauh dari karakter yang kamu bentuk. Jadi kalau kemudian seseorang bertanya, apa yang menentukan takdir, yaa lantas jawab adalah karaktermu, ini yang dimaksud karaktermu adalah takdir mu, atau kalau ada yang bertanya "takdirku bagaimana?" Lihat saja karaktermu

Ini kiranya yang dimaksud firman Allah dalam surat Asy Syura ayat 30, bahwa sebab datangnya musibah itu karena ulah tangan manusia, yang artinya karakter perusak yang menjadi sebab datangnya musibah. Dan maksud serupa dapat kita jumpai dalam firman Allah surat Fatir ayat 45.

Maka memahami qada dan qadar jangan semata mata semua ada pada kehendak-Nya tapi semua ada sebabnya. Kelirunya kita dalam memahami takdir adalah semua serahkan saja kepada Allah kita semua tidak perlu berbuat apa-apa, memang semua diatur dalam skenario-Nya tapi untuk membuatkan sesuatu ada sebabnya. Jadi kalau kamu ingin pintar yaa harusnya belajar, kalau kamu ingin kaya yaa berusaha, berusaha itulah yang mendatangkan kekayaan tadi.

Makanya tidak heran Jalaludin Rumi mengatakan dalam puisinya bahwa "usaha dan doa tergantung kepada cita-cita, manusia tiada memperoleh selain dari apa yang telah diusahakanya, Tuhan sendiri adalah pemberi aspirasi, orang yang kasar takkan bercita cita menjadi raja, namun takdir Tuhan tentang nasib tertentu bagi seseorang, tidak merintanginya untuk berkemauan dan mengambil pilihan. Ketika kesulitan datang, orang yang bernasib sial akan berpaling dari Tuhan, sementara yang diberkahi akan mendekat-Nya.

Karena dengan keyakinan takdir ini yang dikehendaki oleh Allah justru kita harus jadi orang yang aktif, berani dan berjuang, meski nanti ujungnya kita tawakkal illaallah. Jadi memahami takdir itu bukan dengan malas dengan kata lain semua serahkan saja kepada Allah tapi dengan aktif, artinya kalau ingin bertemu takdir yang baik maka lakukanlah suatu kebaikan. Sederhana nya bahwa percaya takdir adalah percaya kepada sunnatullah, pada kausalitas, dan bahwa semua akibat ada usaha dan sebabnya.

 
Wallahu 'alam bi shawwab.


Komentar