Ramadhan, kerinduan dan penyesalan


Sutan Irawansyah

Satu diantara rasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah rasa rindu. Rindu merupakan emosi akan keinginan seorang hamba untuk kembali atau bahkan bertemu kepada suatu fenomena atau momen tertentu. Kerinduan itu kadang-kadang muncul karena teringatnya suatu kebaikan yang membekas terhadap salah satu momentum tertentu. Disamping rindu juga terdapat rasa penyesalan. Penyesalan kurang lebihnya itu kebalikan dari rindu. Dua rasa ini hadir dari reaksi siklus kehidupan yang seringkali bertemu dengan pertemuan dan perpisahan, yang dengan kata lain rindu akan pertemuan dan menyesal karena perpisahan.

Dalam hal ini berlaku dalam bulan Ramadhan yang terkadang kita selaku hamba mengaku rindu pertemuan dengan Ramadhan yang mulia, diberi oleh Allah kesempatan umur, badan sehat dll untuk menemui kemuliaanya. Namun ketika pertemuanya hadir seringkali diabaikan dan disiasiakannya, maka apakah itu yang dinamakan rindu? Yang tanpa disadari pertemuan ramadhan itu dengan cepat bertemu perpisahan, akibatnya yaa penyesalan.

Kerinduan seperti itu hanya kerinduan yang semu, yang tidak sama sekali menumbuhkan kebaikan dan tidak memberikan bekas pada seseorang, dijadikan pertemuanya dengan Ramadhan hanya selintas, datang kemudian pergi dengan cepat. Kerinduanya hanya memberi kesan penyesalan setelah menyadari Ramadhanya itu disiasiakan atau bahkan diacuhkan, seperti tidak jauh beda dengan apa yang Allah firmankan :

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا.......الآية

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebaikan yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak!!…..” (Al Mu’minun [23] : 99-100).

Sebab itu kerinduan jangan diiringi dengan penyesalan yang sangat tidak berguna, dengan kata lain jangan disia siakan, karena belum tentu kita dapat dipertemukan kembali oleh Allah dengan bulan Ramadhan, sedangkan Ramadhan yang telah lewat yang dipertemukan-Nya kita mengacuhkanya, yang hanya menyisakan penyesalan, penyesalan dan penyesalan. Maka benar apa kata pepatah orang tua kita :”Sekarang saat dan waktunya untuk menjadi manusia saleh karena mungkin esok lusa akan ketinggalan”

Dari sini rindu dengan Ramadhan yang akan datang harus di dorong oleh kesadaran menyia-nyiakan Ramadhan yang lalu untuk kemudian diperbaiki supaya lebih baik dari yang sebelumnya  yang tidak memberi bekas penyesalan, atau bahkan nanti bisa saja menyisakan penyesalan abadi. 

Wallahu 'alam bi shawwab

Komentar